Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Riset CELIOS: Lapangan Kerja dari Program MBG Terbatas dan Tak Merata

Kompas.com, 15 Desember 2025, 21:28 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Riset Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai masih terbatas, bersifat sementara, dan tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Meski mayoritas responden dari berbagai kelompok sosial meyakini MBG dapat membuka peluang kerja baru, CELIOS mencatat hanya sebagian kecil masyarakat yang benar-benar terlibat dalam program tersebut.

Kondisi ini mencerminkan bahwa manfaat ekonomi MBG masih bersifat sempit dan eksklusif.

Peneliti CELIOS Isnawati Hidayah mengatakan, tingginya ekspektasi publik terhadap MBG tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas di lapangan.

Baca juga: MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua

“Harapan masyarakat bahwa MBG bisa menggerakkan ekonomi lokal cukup tinggi, tetapi yang menikmati peluang kerja justru kelompok tertentu,” ujarnya dalam webinar, Senin (15/12/2025).

Berdasarkan hasil survei nasional CELIOS, 40,3 persen responden menyatakan lapangan kerja yang tercipta dari MBG hanya menyerap sebagian kecil warga. Adapun responden yang menilai banyak warga memperoleh pekerjaan tambahan hanya 36,39 persen.

Kelompok buruh atau pegawai tercatat sebagai kelompok yang relatif paling banyak merasakan manfaat ekonomi MBG.

Sebanyak 40,11 persen responden dari kelompok ini menyebut ada tambahan pekerjaan bagi warga. Namun, pada saat yang sama, 41,56 persen buruh atau pegawai menilai keterlibatan masyarakat dalam MBG tetap terbatas.

Sementara itu, ketimpangan lebih terasa pada kelompok pekerja bebas di sektor pertanian dan pekerja keluarga tidak dibayar. Lebih dari 30 persen responden dari kedua kelompok ini menyatakan tidak ada penambahan tenaga kerja di lingkungan mereka sejak MBG dijalankan.

CELIOS juga menyoroti dampak negatif MBG terhadap pelaku usaha kecil di sekitar sekolah. Kehadiran dapur-dapur besar penyedia MBG yang ditunjuk pemerintah dinilai memicu penurunan drastis penjualan kantin dan warung lokal.

“Dari warung, kantin, rumah makan, dan sejenisnya, ada potensi 1,9 juta pekerja kehilangan pekerjaan akibat program MBG,” kata Isnawati.

Menurut CELIOS, hingga kini belum ada kebijakan mitigasi yang memadai untuk melindungi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terdampak. Program MBG dinilai lebih banyak melibatkan dapur berskala besar dengan modal ratusan juta hingga miliaran rupiah, dibandingkan pelaku UMKM lokal.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan program MBG berpotensi menciptakan 1,5 juta lapangan kerja baru, dengan asumsi penambahan sekitar 50 pekerja pada setiap 30.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Namun CELIOS menilai klaim tersebut belum memperhitungkan risiko hilangnya pekerjaan di sektor lain.

“Yang terjadi bukan penciptaan lapangan kerja bersih. Orang yang kehilangan pekerjaan justru lebih banyak,” ujar Isnawati.

Baca juga: MBG: Janji Kesehatan Anak Bangsa yang Terancam oleh Buruknya Tata Kelola

CELIOS juga menekankan perlunya verifikasi terhadap klaim penciptaan 1,5 juta lapangan kerja tersebut, mengingat pelaksanaan SPPG dinilai masih minim transparansi dan akuntabilitas, serta memunculkan berbagai persoalan ketenagakerjaan.

Riset CELIOS menggunakan metode campuran dengan menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif.

Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan dan penerima manfaat, sementara survei nasional melibatkan 1.868 responden dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar belakang sosial dan demografis yang beragam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Presiden Prabowo Ajak Menteri, TNI, Polri, hingga Pelajar Pungut Sampah
Presiden Prabowo Ajak Menteri, TNI, Polri, hingga Pelajar Pungut Sampah
Pemerintah
Menteri LH Sebut Dataran Tinggi Lebih Aman Jadi Hutan daripada Lahan Palawija
Menteri LH Sebut Dataran Tinggi Lebih Aman Jadi Hutan daripada Lahan Palawija
Pemerintah
Presiden Prabowo Sebut TPA di Indonesia akan Over Kapasitas pada 2028
Presiden Prabowo Sebut TPA di Indonesia akan Over Kapasitas pada 2028
Pemerintah
Manfaat Nyamplung, dari Biofuel hingga Skincare
Manfaat Nyamplung, dari Biofuel hingga Skincare
LSM/Figur
Hujan Lebat Diprediksi hingga 5 Februari, Mana Wilayah yang Harus Waspada?
Hujan Lebat Diprediksi hingga 5 Februari, Mana Wilayah yang Harus Waspada?
Pemerintah
Hari Ini Ada Hari Lahan Basah Sedunia, PBB Ajak Masyarakat Bergerak
Hari Ini Ada Hari Lahan Basah Sedunia, PBB Ajak Masyarakat Bergerak
Pemerintah
Yayasan Karya Dua Anyam dan BNI Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Penganyam di NTT
Yayasan Karya Dua Anyam dan BNI Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Penganyam di NTT
Advertorial
Besok, Bunga Bangkai Raksasa Langka Diprediksi Mekar di Kebun Raya Bogor
Besok, Bunga Bangkai Raksasa Langka Diprediksi Mekar di Kebun Raya Bogor
Pemerintah
Blue Carbon Indonesia: Solusi Iklim atau Ilusi Pasar Hijau?
Blue Carbon Indonesia: Solusi Iklim atau Ilusi Pasar Hijau?
Pemerintah
Beruang Kutub di Norwegia Tetap Gemuk di Tengah Krisis Iklim, Kok Bisa?
Beruang Kutub di Norwegia Tetap Gemuk di Tengah Krisis Iklim, Kok Bisa?
LSM/Figur
Limbah Biofuel Nyamplung Bisa Jadi Pakan Ternak, Turunkan Emisi Metana
Limbah Biofuel Nyamplung Bisa Jadi Pakan Ternak, Turunkan Emisi Metana
LSM/Figur
NASA Geser Jadwal Misi Bulan Artemis 2 akibat Suhu Dingin
NASA Geser Jadwal Misi Bulan Artemis 2 akibat Suhu Dingin
Pemerintah
Lahan Gambut Asia Tenggara Jadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan
Lahan Gambut Asia Tenggara Jadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan
LSM/Figur
Kapasitas PLTG Dunia Diproyeksikan Melonjak
Kapasitas PLTG Dunia Diproyeksikan Melonjak
LSM/Figur
Indonesia dan AS Sepakati Pengalihan Utang untuk Lindungi Terumbu Karang
Indonesia dan AS Sepakati Pengalihan Utang untuk Lindungi Terumbu Karang
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau