Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Walhi: Drainase Buruk dan Pembangunan Salah Picu Banjir Jambi

Kompas.com - 02/04/2025, 13:00 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi menyebutkan bencana banjir yang melanda di permukiman pada beberapa sudut Kota Jambi akibat pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang keliru atau salah.

Direktur Walhi Jambi Abdullah di Jambi, Selasa (1/4/2025), mengatakan banjir yang menerjang perumahan warga di beberapa sudut kota akibat dampak dari pengelolaan Sumber Daya Alam yang serampangan atau salah serta tidak mematuhi kaidah pengelolaan lingkungan.

Dalam beberapa pekan terakhir ini, di berapa kawasan perumahan warga di Kota Jambi dilanda banjir dengan ketinggian mencapai setengah meter merendam rumah warga akibat curah hujan yang cukup besar dalam durasi satu jam lebih.

Belum lagi ancaman bencana lain yang bisa saja terjadi kapan saja sebagai dampak dari pengelolaan sumber daya alam yang salah dan tidak mematuhi kaidah pengelolaan lingkungan hidup.

“Banjir yang terjadi saat ini ketika intensitas hujan tinggi, di hari menjelang Idul Fitri dan di hari Idul Fitri merupakan dampak dari buruknya perencanaan pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan,” kata Abdullah.

Baca juga: Banjir Jabodetabek, Kemenhut: 4 DAS Sudah Tak Bisa Tampung Air

Drainase yang tidak memadai dan pembangunan yang tidak seimbang dengan infrastruktur pendukung telah menyebabkan bencana banjir di kota yang terus berulang.

Pemerintah daerah harus bertindak cepat dan mengevaluasi kembali proyek pembangunan pembangunan besar, seperti Jambi Bisnis Center (JBC), agar tidak merugikan warga dan lingkungan.

“Karena hal ini terus saja berulang ketika curah hujan meningkat maka dampaknya banjir yang melanda rumah warga maka dari itu pembangunan harusnya disertai dengan perbaikan drainase yang memadai,” kata Abdullah.

Kemudian, air juga harus dapat mengalir dengan lancar, tentunya dengan pertimbangan teknis dan analisa yang lengkap yang seharusnya juga melalukan cek mendetail sebelum terjadi.

Abdullah juga mengatakan jangan setelah kejadian baru sibuk untuk bertindak dan saling menyalahkan, buka dokumen Amdal dan kaji ulang, wilayah serapan air jangan dikonversi lagi menjadi pusat perbelanjaan, perumahan dan lainnya.

“Sudah waktunya memikirkan pembangunan yang berwawasan lingkungan, jangan hanya menjadi jargon, bahagia seperti apa dan mantap seperti apa ketika terus dihadapkan dengan bencana musiman seperti ini,” katanya.

Baca juga: Hanya Beberapa Hari, Banjir Jabodetabek Sebabkan Kerugian Rp 1,69 Triliun

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau