KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengungkap bahwa mikroplastik glitter berbasis PET dapat memengaruhi proses biomineralisasi, tepatnya kristalisasi kalsium karbonat (CaCO3).
Temuan ini menambah kekhawatiran akan dampak jangka panjang polusi mikroplastik terhadap ekosistem laut.
Glitter digunakan secara luas dalam berbagai industri, termasuk kosmetik, seni, mode, cat otomotif, dan bahan anti-pemalsuan untuk memberikan efek berkilau.
Glitter berbentuk butiran plastik mengkilap berukuran 0,5 mm atau lebih kecil, terdiri atas plastik PET dan bahan berwarna mengkilap pada permukaannya.
Dalam riset, tim peneliti School of Natural Sciences, Trinity College, membuat simulasi air laut dan menguji bagaimana 6 jenis glitter PET mendorong pembentukan CaCO3.
Mereka menggunakan teknik analisis canggih seperti mikroskop elektron pemindaian (SEM) dan spektroskopi inframerah.
"Hasil menunjukkan glitter PET berfungsi sebagai template pembentukan kalsium karbonat yang dapat berdampak pada kehidupan laut," kata Kristina Petra Zubovic, pimpinan tim.
"Proses ini bisa memengaruhi integritas struktural organisme laut yang bergantung pada kestabilan kondisi untuk biomineralisasi," imbuhnya seperti dikuti Phys, Selasa (1/4/2025).
Baca juga: Studi: Kunyah Permen Karet Picu Pelepasan Mikroplastik di Mulut
Selain memicu kristalisasi, penelitian ini juga menemukan bahwa glitter PET mengalami degradasi fisik selama pembentukan mineral.
Hal ini menyebabkan mikroplastik semakin terfragmentasi dan melepaskan partikel yang lebih kecil ke lingkungan.
Partikel mikroplastik yang lebih kecil ini lebih mudah tertelan oleh organisme laut, sehingga berpotensi mengganggu rantai makanan serta siklus biogeokimia di lautan.
"Riset kami memberikan wawasan baru tentang bagaimana bahan sintetis ini berinteraksi dengan proses mineralisasi alami," ujar Juan Diego Rodriguez-Blanco, Associate Professor di bidang Nanomineralogi di Trinity College.
"Memahami interaksi ini sangat penting untuk menilai dampak mikroplastik yang lebih luas terhadap ekosistem laut," imbuhnya.
Rodriguez-Blanco mengungkapkan, risetnya bisa menjadi awal untuk menyelidiki pengaruh mikroplastik pada proses mineralisasi lautan secara lebih mendalam.
"Seiring terus meningkatnya akumulasi mikroplastik di lautan dunia, penelitian seperti ini sangat penting untuk memberikan informasi bagi kebijakan lingkungan dan strategi mitigasi," terangnya.
Baca juga: Studi Ecoton Temukan Mikroplastik dalam 5 Merek Teh Celup Indonesia
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya