KOMPAS.com - Laporan baru menunjukkan perusahaan-perusahaan besar di dunia seperti AstraZeneca, Deloitte, dan Barclays terus berusaha untuk mengganti semua mobil operasional mereka dengan mobil listrik pada tahun 2030.
Upaya itu tetap mereka lakukan meski keadaan ekonomi sedang tidak pasti dan komponen-komponen untuk membuat mobil listrik susah didapat.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil laporan baru dari EV100 Climate Group yang melacak komitmen perusahaan terhadap adopsi kendaraan listrik (EV).
Mengutip Edie, Jumat (4/4/2025), meskipun menghadapi ketidakpastian ekonomi, ketegangan geopolitik, dan gangguan rantai pasokan, hampir 70 persen anggota EV100 melaporkan bahwa mereka tetap bergerak maju menuju tujuan mereka untuk mencapai 100 persen EV.
EV100 adalah inisiatif global yang mengajak perusahaan-perusahaan untuk berkomitmen mengganti armada kendaraan mereka dengan kendaraan listrik pada tahun 2030.
Baca juga: RI dan Asean Diingatkan untuk Siapkan Infrastruktur Daur Ulang Baterai Mobil Listrik
Selama setahun terakhir, perusahaan-perusahaan yang berkomitmen menggunakan kendaraan listrik telah menambah banyak mobil listrik ke armada mereka.
Perusahaan tersebut secara kolektif menambahkan 127.000 EV sehingga totalnya menjadi lebih dari 700.000 mobil listrik di 76 negara dan akan terus diperluas mencakup 130 negara dengan komitmen baru untuk menambahkan EV di negara-negara Afrika dan Asia Tengah.
Lebih lanjut, beberapa perusahaan anggota EV100 telah mencapai kemajuan signifikan dalam transisi ke kendaraan listrik.
Sebanyak 20 perusahaan anggota EV100, termasuk Aviva, Capgemini, dan Costain, telah berhasil mengganti setidaknya 50 persen dari armada kendaraan mereka yang berkomitmen dengan kendaraan listrik.
Untuk mendukung transisi ini, perusahaan-perusahaan tersebut telah memasang infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.
Infrastruktur pengisian daya ini telah dipasang di 4.277 lokasi di seluruh dunia. Fasilitas pengisian daya ini disediakan untuk memudahkan karyawan dan pelanggan dalam mengisi daya kendaraan listrik mereka.
Kemajuan penggunaan EV juga dicapai dalam segmen kendaraan berukuran sedang dan berat, seperti truk dan bus, yang lebih besar dan digunakan untuk tujuan komersial atau industri.
Namun, prosesnya lebih lambat karena teknologi baterai belum terlalu maju dan infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan besar juga belum banyak.
Baca juga: 15 Juta Mobil Listrik Ditarget Mengaspal Tahun 2030
Saat ini, anggota EV100+, sebuah kelompok khusus dalam EV100 yang berfokus pada kendaraan yang lebih berat telah menggunakan hampir 400 truk listrik.
Hal ini menunjukkan peningkatan keyakinan terhadap kelayakan penggunaan kendaraan listrik untuk truk.
"Ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan sedang berada di garis depan dalam upaya untuk menciptakan masa depan transportasi yang lebih sehat dan ramah lingkungan," ungkap Kepala transportasi Climate Group Dominic Phinn.
"Agar perusahaan-perusahaan tersebut dapat terus memajukan upaya mereka dalam beralih ke kendaraan listrik kondisi operasional yang tepat seperti infrastruktur pengisian daya yang memadai, insentif keuangan, dan peraturan yang mendukung juga perlu segera diterapkan," tambahnya.
Pembuat kebijakan di seluruh dunia harus segera meningkatkan upaya mereka untuk menciptakan kondisi yang diperlukan untuk mempercepat transisi tersebut.
Penelitian baru menunjukkan, perusahaan-perusahaan global juga membuat kemajuan dalam mengurangi perjalanan.
Penerbangan perusahaan, yaitu penerbangan yang dilakukan karyawan perusahaan untuk keperluan bisnis di perusahaan-perusahaan terbesar di dunia, turun sebesar 34 persen antara tahun 2019 dan 2023.
Namun, meskipun perusahaan multinasional mengurangi jumlah penerbangan, 44 persen perusahaan yang diperingkat masih belum memiliki target untuk mengurangi emisi perjalanan bisnis.
Menurut laporan tersebut, 25 perusahaan yang paling sering melakukan penerbangan dan belum punya target untuk mengurangi polusi udara, menghasilkan 6,9 juta ton emisi CO2 setiap tahunnya.
Baca juga: Pemerintah Pastikan Insentif Mobil Listrik Tetap Ada pada 2025
Perusahaan-perusahaan dalam kelompok ini meliputi Volkswagen, Johnson & Johnson, Bosch, Netflix, Comcast, dan Walt Disney Company.
Laporan menunjukkan, perusahaan yang menetapkan target jelas untuk mengurangi polusi udara dari perjalanan bisnis mereka, berhasil mengurangi rata-rata sebesar 48 persen.
Sementara perusahaan-perusahaan yang memiliki target yang kurang jelas atau kurang spesifik mengurangi emisi mereka sebesar 41 persen.
Perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki target perjalanan udara hanya mengurangi emisi sebesar 28 persen.
"Ini berarti bahwa ada perubahan yang jelas menuju perjalanan yang lebih terencana dan pengurangan frekuensi penerbangan. Banyak perusahaan berhasil mengurangi perjalanan mereka tanpa kehilangan daya saing mereka. Namun, beberapa perusahaan yang lambat dalam mengadopsi praktik tersebut membahayakan kemajuan keseluruhan," papar Denise Auclair, kepala Travel Smart.
"Artinya, sudah waktunya bagi perusahaan-perusahaan yang menghasilkan polusi tinggi dan belum memiliki target pengurangan emisi untuk mengikuti contoh yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan lain," katanya lagi.
Mengurangi emisi dari penerbangan bisnis adalah salah satu solusi tercepat dan termudah bagi perusahaan untuk mencapai tujuan keberlanjutan mereka dan menjadi tempat kerja yang disukai banyak orang.
Baca juga: Peneliti UI Bikin Tabung Listrik Motor Konversi, Bisa Di-charge Tenaga Surya
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya