Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

97 Persen Pemimpin Perusahaan Global Desak Transisi Listrik Terbarukan

Kompas.com, 25 April 2025, 16:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Para pemimpin bisnis global tak lagi berdiam diri dalam transisi energi bersih.

Laporan berjudul "Powering Up: Business Perspectives on Shifting to Renewable Electricity" mengungkapkan bahwa sebanyak 97 persen eksekutif di 15 pasar global kini mendesak pemerintah untuk mempercepat penghapusan bahan bakar fosil dan beralih ke sistem kelistrikan berbasis energi terbarukan.

"Masa depan adalah milik energi terbarukan, dan pemerintah harus bertindak sesuai dengan itu," kata Maria Mendiluce, CEO dari We Mean Business Coalition.

Mengutip ESG News, Jumat (25/4/2025), sebagian besar pemimpin perusahaan (78 persen) berpendapat bahwa negara mereka harus sepenuhnya beralih menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan paling lambat tahun 2035.

Baca juga: Agresif dalam Energi Terbarukan, China Juga Gaspol Batu Bara hingga 2027

Alasan mereka bukan hanya soal lingkungan saja, tetapi juga karena pertimbangan bisnis yang praktis.

Mereka melihat energi terbarukan sebagai cara untuk meningkatkan keamanan energi (75persen), menurunkan biaya listrik (50 persen) dan meningkatkan keuntungan (42 persen).

"Beralih ke energi terbarukan adalah strategi bisnis yang sehat, mengurangi ketergantungan pada harga bahan bakar fosil yang tidak stabil, mengurangi risiko terkait iklim, dan membuka potensi penghematan biaya," ungkap seorang CEO yang berbasis di Inggris.

Para pemimpin perusahaan tidak hanya meminta pemerintah untuk bertindak, tetapi mereka juga mengambil inisiatif sendiri dalam transisi energi bersih.

Laporan menemukan, lebih dari 70 persen pemimpin perusahaan memiliki rencana untuk berhenti menggunakan listrik yang berasal dari bahan bakar fosil dalam waktu 10 tahun ke depan.

Hampir semua pemimpin perusahaan (93 persen) sedang mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam pembangkit listrik energi terbarukan yang berlokasi di fasilitas atau properti mereka sendiri, misalnya dengan memasang panel surya di atap pabrik.

Sedangkan separuh dari perusahaan bahkan berharap untuk menyelesaikan investasi ini dan mulai menghasilkan energi terbarukan sendiri dalam waktu lima tahun mendatang.

Baca juga: ASEAN Tertinggal, Cuma 23 Persen Listrik dari Energi Terbarukan

"Dengan menghasilkan energi bersih kita sendiri, kita dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan kita pada listrik dari jaringan konvensional," tambah seorang direktur asal Jerman.

Walaupun banyak pemimpin perusahaan sangat ingin beralih ke energi terbarukan, ada beberapa masalah yang membuat kemajuan menjadi lebih lambat dari yang diharapkan.

Beberapa di antaranya adalah biaya awal yang tinggi (46 persen), infrastruktur energi terbarukan yang tidak memadai (38 persen), dan jadwal kebijakan yang tidak jelas (35 persen) sehingga menghambat momentum.

Kendati demikian, para pemimpin perusahaan tahu persis dukungan atau tindakan apa yang mereka perlukan untuk dapat mempercepat transisi ke energi terbarukan dan mengatasi hambatan tersebut.

Di antaranya, dukungan insentif keuangan untuk proyek energi terbarukan (41 persen), program pelatihan ulang untuk pekerja bahan bakar fosil (43 persen) serta mengarahkan kembali subsidi bahan bakar fosil ke energi bersih (38 persen).

"Energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin kini lebih murah daripada bahan bakar fosil di banyak wilayah," kata seorang eksekutif senior asal Australia.

"Energi terbarukan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, sehingga meminimalkan risiko geopolitik," tambahnya.

Baca juga: Agresif dalam Energi Terbarukan, China Juga Gaspol Batu Bara hingga 2027

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau