Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ASEAN Tertinggal, Cuma 23 Persen Listrik dari Energi Terbarukan

Kompas.com, 14 April 2025, 16:00 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com – Dunia mencetak rekor baru dalam pemanfaatan energi rendah karbon—termasuk energi terbarukan dan nuklir—pada tahun 2024, dengan kontribusi mencapai 40,9 persen dari total pembangkitan listrik global. Ini adalah kali pertama sejak 1940, porsi energi rendah karbon melebihi 40 persen secara global.

Namun di tengah capaian global yang menggembirakan ini, kawasan Asia Tenggara justru tertinggal jauh. Laporan Global Electricity Review yang dirilis Ember Energy pada 8 April 2025 mengungkap bahwa negara-negara ASEAN belum mampu mengoptimalkan potensi besar energi terbarukan yang dimiliki.

Pada 2024, rata-rata hanya 23 persen listrik di ASEAN berasal dari sumber energi bersih. Angka ini jauh di bawah rata-rata global. Dari seluruh negara anggota, hanya Laos dan Vietnam yang melampaui capaian dunia—masing-masing 77 persen dan 44 persen—berkat pemanfaatan tenaga air yang melimpah.

Yang mencolok adalah stagnasi pemanfaatan tenaga surya. Dalam tiga tahun terakhir, kontribusi solar dalam bauran listrik ASEAN hanya meningkat 0,1 poin, dari 3,1 persen pada 2021 menjadi 3,2 persen pada 2024. Padahal secara global, porsi listrik dari tenaga surya telah berlipat ganda dalam periode yang sama hingga mencapai 6,9 persen.

Baca juga: TotalEnergies Akuisisi Perusahaan Energi Terbarukan di Eropa, Afrika dan Kanada

Vietnam mencatat angka tertinggi di kawasan dengan 8,5 persen listriknya bersumber dari tenaga surya. Namun, kapasitas pembangkitnya pun tidak menunjukkan pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir.

Ketimpangan ini semakin nyata ketika melihat potensi teknis kawasan. ASEAN memiliki potensi tenaga surya lebih dari 30.000 GW dan tenaga angin lebih dari 1.300 GW. Namun kapasitas terpasang saat ini sangat minim—hanya 26,6 GW untuk solar dan 6,8 GW untuk angin.

Indonesia, sebagai negara dengan populasi terbesar dan produsen bahan bakar fosil utama di kawasan, belum memanfaatkan energi terbarukan secara signifikan. Pada 2023, bahan bakar fosil masih menyumbang 81 persen listrik nasional. Pemanfaatan tenaga surya dan angin bahkan masih di bawah 1 persen—jauh di bawah rata-rata global 15 persen dan lebih rendah dari Thailand (5 persen), Kamboja (7 persen), dan Vietnam (13 persen).

Rendahnya pemanfaatan energi bersih ini menjadi tantangan besar, terutama ketika permintaan listrik di ASEAN terus meningkat. Ember memperingatkan bahwa tanpa kebijakan yang lebih kuat dan investasi yang signifikan, kawasan ini berisiko tertinggal dalam transisi energi global.

Baca juga: Tarif Trump Justru Jadi Katalis Pengembangan Energi Terbarukan, Ini Alasannya

“Mengoptimalkan potensi tenaga surya dan angin akan memungkinkan ASEAN membuka pasar energi terbarukan yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi permintaan energi dan mencapai target iklim secara berkelanjutan,” ujar Dr Dinita Setyawati, Analis Kebijakan Kelistrikan Senior Ember untuk Asia Tenggara.

“Dengan dukungan kebijakan yang lebih ambisius, ASEAN sebenarnya memiliki potensi besar untuk memimpin dalam transisi energi,” tambahnya.

Aditya Lolla, Direktur Program Asia Ember, menekankan pentingnya pembangunan pasar energi bersih yang kokoh.

“Transisi energi bersih di Asia mulai menunjukkan momentum, terutama dengan pertumbuhan tenaga surya. Dalam konteks permintaan listrik yang terus meningkat, pengembangan energi bersih sangat krusial tidak hanya untuk ketahanan energi dan ekonomi, tapi juga untuk membawa negara-negara berkembang masuk ke dalam era ekonomi energi bersih.”

Laporan Ember ini juga dirilis bersama dengan dataset global terbuka pertama tentang pembangkitan listrik pada 2024, mencakup 88 negara yang merepresentasikan 93 persen permintaan listrik dunia.

Baca juga: Harga Listrik di Asia Makin Dipengaruhi Energi Terbarukan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau