Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 16 Mei 2025, 07:29 WIB
HTRMN,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sektor pertanian nasional tengah menunjukkan geliat menggembirakan. Salah satunya tecermin dari rekor cadangan beras pemerintah yang tertinggi dalam 57 tahun terakhir.

Hingga Minggu (4/5/2025), stok di gudang Bulog tercatat mencapai 3.502.895 ton—melonjak dari 1,7 juta ton pada Januari 2025. Dalam satu bulan terakhir saja, Bulog menyerap 1,06 juta ton beras dari hasil panen petani lokal, tanpa mengandalkan impor.

Capaian yang menjadi angin segar di tengah tantangan ketahanan pangan nasional itu salah satunya datang dari pedalaman Kalimantan Timur. Tepatnya, di Desa Loh Sumber, Kutai Kartanegara—wilayah yang lebih sering diasosiasikan dengan tambang batu bara ketimbang lumbung pertanian seperti di Pulau Jawa.

BUMDes Sumber Purnama merupakan lembaga usaha milik Desa Loh Sumber yang berperan penting dalam pengembangan pertanian lokal. Dengan dukungan multipihak, BUMDes ini mendorong warga untuk kembali menggarap lahan dan mengembangkan komoditas unggulan desa.

Kepala Desa Loh Sumber Sukirno yang menyaksikan langsung perubahan itu menuturkan bahwa beberapa tahun lalu, banyak anak muda di desanya lebih memilih mengejar pekerjaan tambang daripada menggarap sawah warisan orangtua.

“Bertani dianggap sebagai pekerjaan yang penuh keringat, berlumpur, dan jauh dari kesan profesi yang keren,” ucapnya.

Namun, begitu praktik pertanian mulai menerapkan sistem yang modern, ditambah adanya pendampingan teknis dan kepastian pasar, pola pikir tersebut bergeser. Bertani kembali dipandang sebagai pilihan menjanjikan.

“Dulu, ada beberapa anak muda minta bantu direkomendasikan masuk ke perusahaan tambang. Sekarang saya tawari, mereka tidak mau, malah lebih memilih jadi petani,” ucapnya.

Menghidupkan kembali pertanian

Dalam menggeliatkan kembali pertanian, BUMDes Sumber Purnama membuka akses permodalan, menyediakan alat pertanian modern, dan menjamin hasil panen petani akan dibeli dengan harga layak.

Salah satu upaya penting yang dilakukan adalah pembelian rice milling unit senilai Rp 1,2 miliar secara swadaya. Mesin itu datang dalam bentuk komponen terpisah. Direktur BUMDes Sumber Purnama Sudarmadji dan tim memutuskan merakitnya sendiri, alih-alih menyewa teknisi.

“Kami rakit satu per satu, belajar dari nol, supaya bisa lebih hemat,” katanya.

Dengan mesin tersebut, pengolahan gabah menjadi beras bisa dilakukan dalam satu proses. Kapasitasnya sekitar satu ton per jam. Petani tak lagi harus antre di penggilingan luar desa yang kerap menambah ongkos dan waktu.

Sejak 2023, hasil panen dari lahan seluas 1,5 hektare yang dikelola petani binaan bisa mencapai 11 ton gabah bersih. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang berkisar 4–5 ton.

Tak hanya dari sisi kuantitas, kualitas beras juga meningkat. Varietas yang diproduksi meliputi mikongga, mayas, invari, dan pandan wangi. Produk-produk ini telah menembus pasar di Kutai Kartanegara, Samarinda, hingga Balikpapan—wilayah yang sebelumnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Untuk menjaga keberlanjutan, BUMDes Sumber Purnama juga menerapkan sistem pembelian gabah dengan harga stabil, yaitu antara Rp 5.000–Rp 5.500 per kilogram, sesuai standar Dinas Pertanian Kalimantan Timur dan Bulog. Kebijakan ini memastikan pendapatan petani tetap terjaga, bahkan saat harga pasar sedang turun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau