Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 16 Mei 2025, 07:29 WIB
Hotria Mariana,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

“Ketika harga gabah turun ke level Rp 1.000, kami tetap beli Rp 5.000. Namun, kalau harga naik, maksimal kami beli Rp 5.500. Dengan begitu, semua pihak tetap diuntungkan,” ujar Sukirno.

Beras produksi BUMDes itu dipasarkan dengan merek Cap Tugu. Jumlah produksinya saat ini mencapai 15–20 ton per bulan. Produk tersebut dijual sekitar Rp 10.000 per kilogram dan tersedia dalam kemasan menarik untuk berbagai segmen konsumen.

Kolaborasi bangun ekosistem pangan

Kebangkitan lumbung pangan di Desa Loh Sumber tak bisa dilepaskan dari peran kolaborasi multipihak, termasuk dukungan dari sektor swasta dan pemerintah.

Dari sektor swasta, ada PT Multi Harapan Utama (MHU). Perusahaan tambang batu bara ini menjadi mitra aktif, bahkan turut membantu memulihkan BUMDes Sumber Purnama yang sempat mati suri akibat berbagai kendala.

Lembaga usaha desa itu aktif kembali pada September 2021 setelah mendapat pendampingan intensif dari MHU dan Universitas Kutai Kartanegara, mulai dari bantuan modal hingga pelatihan.

Adapun MHU merupakan anak usaha MMS Group Indonesia (MMSGI), perusahaan yang bergerak di sektor energi dan properti.

Untuk mendorong daya saing beras Cap Tugu, MHU memberikan dukungan yang difokuskan pada pengembangan pemasaran. Bantuan ini mencakup pengadaan mesin pengemas dan perlengkapannya senilai Rp 212 juta, serta pengadaan bahan baku kemasan sebesar Rp 75 juta.

Di sisi hulu, MHU juga berperan sebagai offtaker pada masa awal produksi. Perusahaan memborong hasil panen petani binaan untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Pembelian perdana yang mencakup beras, minyak goreng, dan gula menelan biaya Rp 300 juta. Kemudian, pembelian kedua berupa beras dan sembako tambahan senilai Rp 243 juta. Bantuan ini disalurkan kepada lebih dari 1.800 warga selama pandemi Covid-19.

Secara keseluruhan, kontribusi MHU terhadap BUMDes Sumber Purnama tercatat mencapai Rp 830 juta. Selain menjamin pasar, dukungan ini juga memperkuat rantai pasok pangan desa dan sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang melibatkan partisipasi aktif sektor swasta.

Sementara dari pemerintah, dukungan datang dalam bentuk dana aspirasi DPR RI dan vertical dryer unit skala besar dari Kementerian Pertanian.

Alat tersebut mampu mengeringkan gabah hingga sepuluh ton per jam, menjaga kualitas beras tetap optimal dan seragam. Petani pun tak lagi bergantung pada panas matahari untuk menjemur gabah, yang kerap berisiko rusak saat cuaca tak menentu.

Eks Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif yang telah berjalan.

“Mudah-mudahan langkah seperti ini bisa terus meningkatkan pendapatan para petani,” ujarnya.

Kisah sukses Desa Loh Sumber membuktikan bahwa pembangunan pertanian berkelanjutan dapat tumbuh di mana saja, bahkan di wilayah yang identik dengan industri lain.

Kisah tersebut juga mengajarkan bahwa ketika pertanian dikelola dengan ilmu, keberpihakan, dan jejaring yang solid, petani tidak lagi berjalan sendiri. Kedaulatan pangan pun tak lagi sekadar slogan, tetapi kenyataan yang perlahan tumbuh.

Lebih dari itu, upaya tersebut turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya, poin 1 (pengentasan kemiskinan), poin 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), poin 9 (infrastruktur pertanian), serta poin 12 (konsumsi dan produksi berkelanjutan).

Chief Executive Officer (CEO) MMSGI mengatakan, keberlanjutan tidak hanya tentang menjaga lingkungan, tapi juga menciptakan kemandirian ekonomi di tingkat lokal. Inisiatif warga Desa Loh Sumber untuk menjadi petani padi adalah contoh nyata masyarakat dapat berkontribusi pada ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

“Hal tersebut adalah bentuk sinergi antara program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dan semangat untuk tumbuh bersama,” jelasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau