Lebih lanjut, laporan juga menyoroti kurangnya data tentang dampak kesehatan terkait panas di wilayah berpenghasilan rendah.
Baca juga: Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Percepat Penuaan
Meskipun Eropa memiliki data yang jelas tentang lebih dari 61.000 kematian terkait panas pada musim panas 2022, data serupa sangat minim di wilayah lain di dunia.
Hal ini disebabkan karena banyak kematian yang sebenarnya diakibatkan oleh panas ekstrem sering kali salah dicatat sebagai kematian karena penyakit lain, seperti penyakit jantung atau paru-paru, yang sudah ada sebelumnya.
Para peneliti menekankan bahwa untuk melindungi masyarakat dari bahaya panas ekstrem, pemerintah dan kota-kota harus segera menerapkan sistem peringatan dini, mengedukasi publik tentang risikonya, dan mengembangkan rencana aksi panas yang dirancang khusus untuk kondisi di setiap kota.
Beberapa di antaranya adalah menggunakan desain bangunan yang lebih baik dengan peneduh dan ventilasi serta mengubah kebiasaan pribadi seperti menghindari aktivitas berat saat suhu sedang sangat tinggi.
Namun, adaptasi saja tidak akan cukup. Para peneliti memperingatkan, satu-satunya cara untuk menghentikan meningkatnya keparahan dan frekuensi panas ekstrem adalah dengan segera menghentikan penggunaan bahan bakar fosil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya