Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

2025 World Investment Report: Kesenjangan Investasi SDG Kian Melebar

Kompas.com, 1 Juli 2025, 17:12 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kondisi investasi di tingkat global saat ini tidak mendukung sektor-sektor industri yang berperan vital dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB.

Pasalnya, laporan "2025 World Investment Report" telah memberikan peringatan bahwa aliran Investasi Langsung Asing (FDI) di dunia saat ini cenderung menjauhi negara-negara dan sektor-sektor yang sebenarnya paling membutuhkan investasi tersebut.

Analisis menunjukkan meskipun Afrika dan Asia Tenggara berhasil menarik lebih banyak Investasi Langsung Asing (FDI) dan menunjukkan pertumbuhan yang kuat dalam hal tersebut, situasi FDI secara global untuk semua negara berkembang tidak membaik.

Dampak negatif ini pun terutama dirasakan di negara-negara yang paling kurang berkembang dan paling rentan secara ekonomi.

Investasi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di negara-negara berkembang mengalami kemunduran besar di hampir semua sektor kunci pada tahun 2024, termasuk infrastruktur, energi terbarukan, air dan sanitasi, serta agrifood.

Baca juga: Ketidakpastian Ekonomi Hambat Investasi Mineral Kritis

Hanya sektor kesehatan yang menunjukkan pertumbuhan positif meski hanya sedikit.

Ini tentu merupakan kabar buruk bagi upaya global untuk mencapai SDG.

Mengutip Down to Earth, Selasa (1/7/2025), secara angka, investasi infrastruktur turun 35 persen, energi terbarukan turun 31 persen, belanja untuk air, sanitasi, dan kebersihan menyusut 30 persen, dan investasi agrifood turun 19 persen.

Hanya kesehatan dan pendidikan yang mencatat kenaikan 25 persen.

Dan sejak SDG diadopsi pada tahun 2015 hingga 2024, hanya ada pertumbuhan investasi yang signifikan di sektor energi terbarukan dan kesehatan.

Lebih lanjut, penurunan pendanaan proyek investasi (IPF) juga telah secara langsung memperburuk kekurangan investasi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya di negara-negara miskin dan paling rentan.

Pembiayaan dari IPF bisa mencapai lebih dari 60-70 persen dari total investasi infrastruktur mereka. Ini menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ketika IPF menurun, pembangunan infrastruktur mereka langsung terpukul keras, yang pada akhirnya menghambat kemajuan SDG.

Baca juga: Hollywood Beraksi, Desak Penyedia Dana Pensiun Lepas dari Investasi Energi Kotor

Sebagai gambaran, banyak dari Negara-negara Kurang Berkembang berada di benua Afrika dan salah satu hambatan investasi terbesar yang mereka hadapi adalah kurangnya kemampuan untuk memproduksi obat-obatan sendiri.

Meskipun permintaan terhadap obat-obatan di Afrika terus meningkat, benua itu masih mengimpor lebih dari 70 persen kebutuhan obat-obatannya karena kurangnya investasi asing langsung untuk membangun fasilitas produksi obat-obatan di dalam benua itu sendiri.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa penurunan IPF ini paling parah terjadi di sektor-sektor infrastruktur yang selaras dengan SDG.

Meskipun minat investor terhadap energi terbarukan sangat kuat secara global, data menunjukkan adanya pola yang jelas bahwa negara-negara berkembang yang lebih maju dan memiliki ekosistem keuangan yang lebih matang telah berhasil mendapatkan sebagian besar kesepakatan investasi di sektor ini.

Laporan PBB ini pun kemudian mendesak agar ada upaya global yang kuat dan terencana untuk mengarahkan ulang investasi agar lebih mendukung pembangunan yang ramah lingkungan, adil, dan merata, terutama dengan memprioritaskan kesenjangan dalam akses digital, infrastruktur, dan pendanaan berkelanjutan di negara-negara yang paling membutuhkan.

Baca juga: Dukung SDG 8, Astra Dorong UMKM Naik Kelas

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau