KOMPAS.com - Vanili bukan hanya sekadar bahan pokok dapur. Vanili merupakan rempah paling populer di dunia setelah kunyit dan digunakan dalam berbagai hal, mulai dari es krim hingga parfum dan obat-obatan.
Daya tarik aroma vanili yang kaya dan manis itulah yang kemudian telah menjadikannya sebagai komoditas global, mendukung berbagai industri dan petani kecil.
Namun, di balik daya tariknya, tersembunyi kenyataan rapuh yang terkait erat dengan perubahan iklim.
Tanaman vanili komersial yang berasal dari anggrek Vanilla planifolia menghadapi tantangan yang semakin besar.
Tantangan tersebut meliputi ancaman kekeringan, panas, dan penyakit, yang semuanya semakin memburuk akibat perubahan iklim.
Pertanian vanili juga sudah sangat bergantung pada penyerbukan tangan yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Tekanan lebih lanjut pada spesies tersebut dapat mengancam tidak hanya budidayanya tetapi juga mata pencaharian banyak komunitas petani.
Baca juga: Perubahan Iklim Pangkas Panen Global Meski Petani Sudah Beradaptasi
Spesies Vanili liar yang tersebar di seluruh daerah tropis bisa menjadi kunci untuk melestarikan tanaman yang berharga ini.
Spesies tersebut menawarkan kekayaan keragaman genetik yang dapat membantu memperkuat varietas yang dibudidayakan.
Namun, lagi-lagi spesies liar ini kini juga turut menghadapi krisis yang disebabkan oleh iklim.
Mengutip Earth.com, Senin (7/7/2025), para ilmuwan telah lama menyadari pentingnya spesies Vanili liar sebagai sumber daya genetik.
Spesies ini memiliki sifat yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, toleransi terhadap panas, dan ketahanan terhadap penyakit pada vanili komersial.
Namun, kelangsungan hidup mereka terkait erat dengan penyerbuk, terutama lebah dari suku Euglossini.
Di alam, sebagian besar spesies Vanili bergantung pada penyerbuk hewan untuk reproduksi. Hubungan rumit ini, yang sering kali melibatkan perilaku khusus dan kompatibilitas fisik, sangat rentan terhadap gangguan ekologis.
Charlotte Watteyn, seorang peneliti dari KU Leuven dan University of Costa Rica, menyatakan bahwa perubahan iklim bisa menyebabkan berkurangnya area di mana spesies anggrek Vanila dan penyerbuknya dapat hidup berdampingan.
Penyerbuk, khususnya lebah Euglossini, menghadapi ancaman iklim yang meningkat. Habitat mereka diperkirakan akan menyusut, dengan spesies lebah yang lebih kecil menunjukkan kerentanan yang lebih besar daripada yang lebih besar.
Baca juga: Lawan Krisis Iklim, BRIN Genjot Pemuliaan Tanaman Buah Pakai Speed Breeding
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya