KOMPAS.com – Semangat inklusi dan kontribusi sosial menjadi dasar utama dalam renovasi dan pengembangan Masjid Jami Soeprapto Soeparno di kawasan Kampung Makassar, Jakarta Timur (Jaktim).
Masjid tersebut dibangun kembali sebagai bentuk kesinambungan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan almarhum Soeprapto Soeparno, pendiri masjid tersebut pertama kali pada 1979.
Presiden Direktur PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) M Feriadi Soeprapto mengatakan, masjid tersebut merupakan cerminan filosofi hidup sang ayah yang menekankan pentingnya nilai kepedulian dan kebermanfaatan.
“Masjid Jami Soeprapto Soeparno menjadi landmark baru bukan hanya memperkaya arsitektur kota, melainkan juga memberikan dampak positif bagi kehidupan spiritual dan sosial masyarakat sekitar,” ujar Feriadi dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (9/7/2025).
Baca juga: Masjid Modern Tidak Butuh Menara dan Kubah
Ia berharap, masjid tersebut menjadi mercusuar kebaikan, tempat di mana nilai-nilai berbagi, memberi, dan menyantuni yang menjadi filosofi dasar dapat tumbuh dan berkembang.
Pada kesempatan sama, Direktur Utama PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI) Yulina Hastuti menambahkan, pembangunan masjid merupakan bentuk kontribusi sosial yang menyentuh akar kebutuhan masyarakat.
Pembangunan Masjid Jami Soeprapto Soeparno merupakan bentuk kontribusi sosial yang menyatukan, menguatkan, dan memberdayakan.
“Amanah almarhum tentang pentingnya menjunjung nilai inklusivitas, serta kepedulian kepada anak-anak yatim, ibu janda, dan penyandang tunanetra, menjadi landasan utama dari inisiatif ini,” tuturnya.
Baca juga: Kini, Beribadah di Masjid Haji Keuchik Leumik Bisa Lewat Jembatan Ini
Terletak di Jalan Pusdiklat Depnaker, masjid tersebut berdampingan langsung dengan Taman Yayasan Tuna Netra (Yatuna) Soeprapto Soeparno yang juga merupakan bagian dari warisan sosial keluarga.
Dalam proses pengembangan terbarunya, masjid dirancang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat spiritual, sosial, dan komunitas yang terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat.
Pembangunan kembali masjid ini menjadi kelanjutan dari gagasan sang istri, Nuraini Soeprapto Soeparno, untuk melanjutkan cita-cita sang suami.
Sebagai bentuk penghormatan dan keberlanjutan nilai-nilai tersebut, proyek pengembangan dimulai secara simbolis melalui peletakan batu pertama oleh Nuraini pada awal Juli 2025.
Baca juga: 100 Pasangan Nikah Massal di Masjid Istiqlal, Mahar Ditanggung Kemenag
Adapun Masjid Jami Soeprapto Soeparno berdiri di atas lahan seluas 12.520 meter persegi, dengan luas bangunan utama sekitar 1.700 meter persegi yang terdiri dari dua lantai.
Ruang-ruang terbuka, seperti teras belakang dan dua balkon, turut melengkapi desainnya, menjadikan masjid ini mampu menampung ribuan jamaah sekaligus menyatu secara harmonis dengan lingkungan sekitar.
Ahmad Yuniarto, putra sulung Soeprapto Soeparno, menjelaskan bahwa pembangunan masjid ini merupakan kelanjutan dari dedikasi keluarga dalam menghadirkan ruang ibadah yang tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga kuat secara nilai.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya