Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sel Surya dan Fotokatalisis Nano BRIN Ubah Cahaya Jadi Listrik, Limbah Jadi Air Bersih

Kompas.com, 21 Juli 2025, 12:42 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan dua teknologi, yakni sel surya organik dan fotokatalisis nano-hibrida, yang dinilai berpotensi mendukung sektor energi dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Pengembangan sel surya organik dilakukan dengan pendekatan arsitektur tipe inverted (nip), yang dinilai efisien dalam mengubah cahaya menjadi listrik.

Menurut Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Mohamad Insan Nugraha, sel surya organik dipilih karena menggunakan bahan-bahan organik seperti plastik khusus (polimer) dan PCBM, bahan penerima elektron yang membantu mengalirkan listrik.

“Sel surya berbasis organik dipilih karena material organik seperti polimer terkonjugasi dan PCBM memiliki sifat khas seperti bobot ringan, fleksibilitas mekanik yang baik, tidak toksik, dan mudah diproses dalam larutan pelarut organik,” ujar Nugraha sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis BRIN, Jumat (18/7/2025).

Kelebihan tersebut memungkinkan proses pembuatan (fabrikasi) dilakukan secara sederhana, murah, tanpa ruang vakum, dan pada suhu rendah, di bawah 100 derajat Celcius.

Proses ini dapat dilakukan dengan metode pelapisan putar (spin coating), pelapisan bilah (blade coating), pencetakan tetes tinta (inkjet printing), hingga produksi gulung ke gulung (roll-to-roll).

Baca juga: BRIN Kembangkan Sel Surya Mikroalga, Disebut Lebih Ramah Lingkungan

Selain itu, BRIN juga mengembangkan sel surya organik efisiensi tinggi, di atas 19 persen, dengan menggunakan lapisan penghantar elektron berbasis metal oksida yang didoping.

Sel surya organik ini dinilai memiliki potensi untuk mendukung transisi energi bersih karena selain efisien dan fleksibel, juga ramah lingkungan.

Materialnya yang tidak beracun serta proses pembuatannya yang hemat energi dapat mendorong produksi energi terbarukan yang lebih terjangkau dan dapat diterapkan di berbagai skala.

Selain energi, BRIN mengembangkan teknologi fotokatalisis berbasis material nano-hibrida untuk mendukung pengelolaan lingkungan, khususnya dalam pengolahan air limbah.

Postdoctoral Fellow dari Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Arun Velumani, mengatakan bahwa pencemaran air akibat limbah organik dari industri, farmasi, dan tekstil memerlukan solusi yang ramah lingkungan.

Salah satu teknologi yang dapat menjadi solusi adalah fotokatalisis, yang mampu menguraikan limbah organik tanpa menghasilkan polutan sekunder.

Untuk meningkatkan efisiensinya, tim melakukan modifikasi material melalui pembentukan heterojunction dan penambahan Reduced Graphene Oxide (RGO).

Baca juga: Teknologi Daur Ulang Tekstil, Solusi Masa Depan untuk Limbah Industri Fashion

Arun menjelaskan bahwa material nanohibrida ini disintesis dengan metode hidrotermal pada suhu 180 derajat Celcius selama 15 jam. Komponen penyusunnya dipilih berdasarkan kriteria stabilitas tinggi, toksisitas rendah, serta kemampuan penyerapan cahaya yang baik.

Hasil karakterisasi menunjukkan struktur kristalin yang baik, ukuran partikel sekitar 10,6 nanometer, dan band gap sebesar 2,88 eV.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau