Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asia Tenggara Termasuk Sumber Utama Gas Rumah Kaca

Kompas.com, 24 Desember 2025, 20:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Asia Tenggara termasuk sumber utama gas rumah kaca, menurut studi terbaru yang dipimpin oleh Hiroshima University, Jepang.

Jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan dari wilayah Asia Tenggara ke atmosfer jauh lebih banyak diabnding kemampuan penyerap karbon alami untuk senyawa kimia tersebut dalam jangka waktu lama.

Baca juga:

"Asia Tenggara memiliki beberapa hutan dan rawa-rawa dengan kandungan karbon tertinggi di dunia, tapi wilayah ini masih menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer daripada yang dihilangkan," kata associate professor di The IDEC Institute, sekaligus penulis utama studi tersebut, Masayuki Kondo, dilansir dari Phys.org, Rabu (24/12/2025).

"Alasan utamanya adalah deforestasi yang terus berlanjut serta pengeringan lahan gambut. Kebakaran dan penggunaan batu bara yang semakin meningkat membuat situasi semakin parah," tambah dia.

Untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris, negara-negara anggota ASEAN perlu menekan perubahan penggunaan lahan yang aktif dan penggunaan bahan bakar fosil tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi, dilansir dari laman AGU Pubs.

Asia Tenggara jadi sumber gas rumah kaca

Disebabkan oleh deforestasi dan penggunaan bahan bakar fosil

Penilaian komprehensif terhadap keseimbangan gas rumah kaca Asia Tenggara yang dilakukan oleh tim peneliti menunjukkan, kawasan ini merupakan sumber signifikan gas yang menyebabkan pemanasan iklim.

Penyebab utamanya adalah deforestasi, kerusakan lahan gambut, kebakaran, dan penggunaan bahan bakar fosil yang meningkat pesat.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Global Biogeochemical Cycles ini menyoroti betapa sulitnya bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk mencapai netralitas iklim.

Studi ini menekankan perlunya negara-negara untuk bekerja sama sesegera mungkin.

Baca juga:

Penyerapan alami tak sanggup imbangi emisi akibat aktivitas manusia

Asia Tenggara termasuk sumber utama emisi gas rumah kaca. Deforestasi dan batu bara jadi penyebabnya.canva.com Asia Tenggara termasuk sumber utama emisi gas rumah kaca. Deforestasi dan batu bara jadi penyebabnya.

Dalam studinya, tim peneliti mengukur semua sumber dan penyerap karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida di seluruh Asia Tenggara dari tahun 2000 hingga 2019.

Mereka menemukan bahwa ekosistem alami, termasuk hutan, lahan basah, hutan bakau, dan lahan gambut, terus menyimpan dan menyerap sejumlah besar karbon.

Namun, penyerapan alami ini tidak cukup untuk mengimbangi emisi yang disebabkan oleh manusia akibat perubahan penggunaan lahan dan pembakaran bahan bakar fosil.

Studi tersebut menemukan bahwa penebangan hutan dan konversi menjadi jenis lahan lain melepaskan lebih banyak gas rumah kaca daripada aktivitas lain selama periode studi 20 tahun.

"Hutan berusaha tumbuh kembali, tetapi mereka tidak dapat mengimbangi laju penebangan hutan. Jika negara-negara melindungi dan memulihkan hutan, mereka akan melihat manfaat iklim yang langsung dan signifikan," kata Kondo.

Kebakaran, termasuk kebakaran lahan gambut yang luas selama tahun-tahun kering El Niño, merupakan kontributor terbesar berikutnya. Dekomposisi gambut dari lahan gambut yang dikeringkan juga melepaskan emisi dalam jumlah besar.

Para peneliti juga menemukan peningkatan dramatis sebesar 48 persen dalam emisi dari bahan bakar fosil.

Asia Tenggara termasuk sumber utama emisi gas rumah kaca. Deforestasi dan batu bara jadi penyebabnya.Wikimedia Asia Tenggara termasuk sumber utama emisi gas rumah kaca. Deforestasi dan batu bara jadi penyebabnya.

Minyak merupakan sumber emisi utama pada tahun-tahun sebelumnya, tapi penggunaan batu bara mulai meningkat tajam setelah tahun 2005 dan melampaui emisi minyak pada tahun 2018.

Tanpa perubahan substansial dalam kebijakan energi, studi ini memperingatkan bahwa batu bara dapat tetap menjadi pendorong utama emisi masa depan.

"Peningkatan emisi batu bara adalah sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya di wilayah ini," kata Kondo.

"Jika semua pembangkit listrik tenaga batu bara yang direncanakan dibangun, emisi sektor energi dapat meningkat lebih banyak lagi sehingga akan jauh lebih sulit bagi Asia Tenggara untuk mencapai netralitas iklim," paparnya lagi.

Baca juga: Langkah Hijau Apple, Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca Global Lebih dari 60 Persen

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau