KOMPAS.com - Organisasi 350.org Asia meluncurkan kampanye "REImagine Asia" yang mendorong energi terbarukan berbasis komunitas.
Kampanye ini juga menyerukan agar negara-negara maju dan pencemar lingkungan membayar "utang iklim" mereka, sehingga negara-negara berkembang di Asia bisa mandiri dalam hal energi.
350.org sendiri merupakan gerakan masyarakat awam yang bekerja untuk membangun dunia yang didukung oleh energi terbarukan yang bersih, mudah diakses, dan terjangkau.
Kelompok pemerhati iklim ini khawatir bahwa negosiasi tarif AS akan membuat negara-negara Asia, seperti Indonesia dan India, semakin bergantung pada impor minyak dan gas AS.
Baca juga: Bank Kian Gencar Danai Bahan Bakar Fosil pada 2024
“Masa depan kita tidak untuk diperjualbelikan. Pemerintah-pemerintah di Asia seharusnya tidak dipaksa untuk menghabiskan lebih banyak minyak dan gas AS ketika mereka telah berkomitmen untuk menghapus bahan bakar fosil dan melipatgandakan energi terbarukan pada tahun 2030," ungkap Chuck Baclagon, Juru Kampanye Keuangan Regional Asia 350.org keterangannya pada Jumat (18/7/2025).
"Pengabaian total terhadap komitmen iklim menempatkan miliaran orang Asia pada risiko dampak iklim yang lebih besar seiring planet ini mendekati batas berbahaya 1,5 derajat C. Hal ini juga menghambat potensi energi terbarukan yang sangat besar di kawasan ini dan melemahkan kedaulatan serta keamanan energi jangka panjang,” paparnya lagi.
Menurut Sisilia Nurmala Dewi dari 350.org Indonesia, Indonesia sudah membuktikan bahwa energi terbarukan bisa menyejahterakan masyarakat dan bisa diperluas dengan dukungan yang tepat.
Namun, ia memperingatkan bahwa impor minyak dan gas dari AS akan menghambat target Indonesia untuk beralih ke energi terbarukan. Padahal, transisi ini sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kemandirian energi yang dijanjikan Presiden Prabowo.
Menjelang KTT iklim COP30, 350.org Asia juga menyatakan bahwa kelompok-kelompok di Asia akan berpartisipasi dalam aksi global "Draw the Line" di bulan September.
Tujuannya adalah mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata, tegas, dan mendesak dalam mengatasi krisis iklim.
Di Nepal, Omkar Subedi, peneliti di Digo Bikas Institute, berbicara tentang bagaimana jaringan mikro surya meningkatkan mata pencaharian di Desa Dhapsung, sebuah komunitas dataran tinggi di Distrik Sindhupalchowk.
“Akses energi masih menjadi masalah di Nepal. Memiliki energi bersih yang andal adalah langkah pertama bagi masyarakat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Kita membutuhkan sistem energi yang berorientasi pada masyarakat di mana masyarakat memiliki rasa kepemilikan atas solusi iklim, bukan ‘solusi’ oleh perusahaan swasta yang mengambil keuntungan dari pembangkit listrik,” katanya.
Baca juga: Emisi Industri Bahan Bakar Fosil Picu Kenaikan Signifikan Permukaan Laut
Di Indonesia, Arbatuun berbicara tentang bagaimana Mikrohidro Komunitas Gunung Sawur di Desa Sumberwuluh, Lumajang telah mendorong pemberdayaan perempuan.
“Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat diperlukan untuk adopsi energi terbarukan secara luas. Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah strategis untuk berinvestasi dalam infrastruktur energi hijau," katanya.
"Kita telah membuktikan bahwa energi terbarukan dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan kemandirian energi, kita dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang nyata, terutama di daerah pedesaan,” tambahnya.
Sementara itu di Jepang, Erina Imai dari Sun Sun Suita Community Power berbicara tentang bagaimana sebuah panti jompo di Kota Suita, Osaka, menggunakan energi surya milik masyarakat.
“Jepang menghadapi dampak iklim yang serius, terutama topan. Bahkan di negara dengan infrastruktur yang kuat, kita perlu bersiap menghadapi kerusakan iklim yang lebih parah, yang khususnya sulit bagi populasi rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Mereka tidak dapat dengan mudah dievakuasi saat bencana dan membutuhkan ketahanan energi," terangnya.
Melalui energi terbarukan yang dikelola masyarakat, kita dapat menggabungkan aksi iklim dengan kepedulian, menciptakan komunitas energi jenis baru.
Baca juga: China Terapkan Standar Energi Terbarukan Pertama untuk Sektor Baja dan Semen
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya