Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Lumajang sampai Osaka, Energi Komunitas Terbukti Bisa Bikin Dunia Menyala

Kompas.com, 22 Juli 2025, 17:32 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi 350.org Asia meluncurkan kampanye "REImagine Asia" yang mendorong energi terbarukan berbasis komunitas.

Kampanye ini juga menyerukan agar negara-negara maju dan pencemar lingkungan membayar "utang iklim" mereka, sehingga negara-negara berkembang di Asia bisa mandiri dalam hal energi.

350.org sendiri merupakan gerakan masyarakat awam yang bekerja untuk membangun dunia yang didukung oleh energi terbarukan yang bersih, mudah diakses, dan terjangkau.

Kelompok pemerhati iklim ini khawatir bahwa negosiasi tarif AS akan membuat negara-negara Asia, seperti Indonesia dan India, semakin bergantung pada impor minyak dan gas AS.

Baca juga: Bank Kian Gencar Danai Bahan Bakar Fosil pada 2024

“Masa depan kita tidak untuk diperjualbelikan. Pemerintah-pemerintah di Asia seharusnya tidak dipaksa untuk menghabiskan lebih banyak minyak dan gas AS ketika mereka telah berkomitmen untuk menghapus bahan bakar fosil dan melipatgandakan energi terbarukan pada tahun 2030," ungkap Chuck Baclagon, Juru Kampanye Keuangan Regional Asia 350.org keterangannya pada Jumat (18/7/2025).

"Pengabaian total terhadap komitmen iklim menempatkan miliaran orang Asia pada risiko dampak iklim yang lebih besar seiring planet ini mendekati batas berbahaya 1,5 derajat C. Hal ini juga menghambat potensi energi terbarukan yang sangat besar di kawasan ini dan melemahkan kedaulatan serta keamanan energi jangka panjang,” paparnya lagi.

Menurut Sisilia Nurmala Dewi dari 350.org Indonesia, Indonesia sudah membuktikan bahwa energi terbarukan bisa menyejahterakan masyarakat dan bisa diperluas dengan dukungan yang tepat.

Namun, ia memperingatkan bahwa impor minyak dan gas dari AS akan menghambat target Indonesia untuk beralih ke energi terbarukan. Padahal, transisi ini sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kemandirian energi yang dijanjikan Presiden Prabowo.

Menjelang KTT iklim COP30, 350.org Asia juga menyatakan bahwa kelompok-kelompok di Asia akan berpartisipasi dalam aksi global "Draw the Line" di bulan September.

Tujuannya adalah mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata, tegas, dan mendesak dalam mengatasi krisis iklim.

Di Nepal, Omkar Subedi, peneliti di Digo Bikas Institute, berbicara tentang bagaimana jaringan mikro surya meningkatkan mata pencaharian di Desa Dhapsung, sebuah komunitas dataran tinggi di Distrik Sindhupalchowk.

“Akses energi masih menjadi masalah di Nepal. Memiliki energi bersih yang andal adalah langkah pertama bagi masyarakat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Kita membutuhkan sistem energi yang berorientasi pada masyarakat di mana masyarakat memiliki rasa kepemilikan atas solusi iklim, bukan ‘solusi’ oleh perusahaan swasta yang mengambil keuntungan dari pembangkit listrik,” katanya.

Baca juga: Emisi Industri Bahan Bakar Fosil Picu Kenaikan Signifikan Permukaan Laut

Di Indonesia, Arbatuun berbicara tentang bagaimana Mikrohidro Komunitas Gunung Sawur di Desa Sumberwuluh, Lumajang telah mendorong pemberdayaan perempuan.

“Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat diperlukan untuk adopsi energi terbarukan secara luas. Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah strategis untuk berinvestasi dalam infrastruktur energi hijau," katanya.

"Kita telah membuktikan bahwa energi terbarukan dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan kemandirian energi, kita dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang nyata, terutama di daerah pedesaan,” tambahnya.

Sementara itu di Jepang, Erina Imai dari Sun Sun Suita Community Power berbicara tentang bagaimana sebuah panti jompo di Kota Suita, Osaka, menggunakan energi surya milik masyarakat.

“Jepang menghadapi dampak iklim yang serius, terutama topan. Bahkan di negara dengan infrastruktur yang kuat, kita perlu bersiap menghadapi kerusakan iklim yang lebih parah, yang khususnya sulit bagi populasi rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Mereka tidak dapat dengan mudah dievakuasi saat bencana dan membutuhkan ketahanan energi," terangnya.

Melalui energi terbarukan yang dikelola masyarakat, kita dapat menggabungkan aksi iklim dengan kepedulian, menciptakan komunitas energi jenis baru.

Baca juga: China Terapkan Standar Energi Terbarukan Pertama untuk Sektor Baja dan Semen

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jepang Hidupkan Kembali Reaktor PLTN Kashiwazaki-Kariwa
Jepang Hidupkan Kembali Reaktor PLTN Kashiwazaki-Kariwa
Pemerintah
Jumlah Perusahaan AS yang Publikasi Kebijakan DEI Turun Tajam
Jumlah Perusahaan AS yang Publikasi Kebijakan DEI Turun Tajam
Swasta
Duta UNICEF Soroti Pernikahan Dini hingga Kekerasan Anak di Indonesia
Duta UNICEF Soroti Pernikahan Dini hingga Kekerasan Anak di Indonesia
LSM/Figur
Cinta Laura Ditunjuk Jadi Duta Nasional UNICEF Indonesia
Cinta Laura Ditunjuk Jadi Duta Nasional UNICEF Indonesia
LSM/Figur
Investasi ESG di ASEAN Meroket, Imbangi Tren di Pasar Global yang Melemah
Investasi ESG di ASEAN Meroket, Imbangi Tren di Pasar Global yang Melemah
Pemerintah
Bulan K3 Nasional, BLKP Group Dorong Budaya Keselamatan Kerja untuk Industri Berkelanjutan
Bulan K3 Nasional, BLKP Group Dorong Budaya Keselamatan Kerja untuk Industri Berkelanjutan
Swasta
Mana yang Lebih Ramah Lingkungan: Perusahaan Keluarga ataukah Publik?
Mana yang Lebih Ramah Lingkungan: Perusahaan Keluarga ataukah Publik?
Swasta
Inggris Gelontorkan Rp 275 Miliar untuk Tata Kelola Hutan Indonesia
Inggris Gelontorkan Rp 275 Miliar untuk Tata Kelola Hutan Indonesia
Pemerintah
Mitigasi Bencana, Pertamina Patra Niaga Tanam 1.300 Pohon Saninten
Mitigasi Bencana, Pertamina Patra Niaga Tanam 1.300 Pohon Saninten
BUMN
Guru di Jombang Ajak Siswa Bijak Konsumsi Gula Lewat Program Sugar Smart Squad
Guru di Jombang Ajak Siswa Bijak Konsumsi Gula Lewat Program Sugar Smart Squad
LSM/Figur
Pulau Bengkalis Jadi Lokasi Belajar Konservasi Mangrove Nasional dan Global
Pulau Bengkalis Jadi Lokasi Belajar Konservasi Mangrove Nasional dan Global
Pemerintah
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
LSM/Figur
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Pemerintah
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau