Penulis
KOMPAS.com - Risiko serangan siber semakin meningkat pada tahun 2025 seiring maraknya penggunaan akal imitasi (AI) dan ketegangan geopolitik.
Hal itu diungkap oleh Ensign Infosecurity, lembaga konsultan keamanan siber yang berpusat di Singapura, dalam diskusi peluncuran laporan terbarunya di Jakarta pada Rabu (23/7/2025).
Adithya Nugraputra, Head of Consulting Ensign Infosecurity Indonesia mengungkapkan, "Maraknya AI meningkatkan data leaks. Semua memakai. Memasukkan data di situ. Memang ada gunanya, tetapi kemungkinan data bocor lebih banyak."
Potensi bocor semakin besar karena minimnya kesadaran keamanan data baik di level korporasi maupun individu dalam perusahaan.
Jika serangan digital adalah epidemi, maka penyebabnya di level korporasi bukan hanya soal sistem yang kurang, tetapi juga sumber daya manusia yang tidak disiplin menjaga higienitas digital.
"Kita cenderung tidak disiplin melakukan hal-hal yang repetitif. Menunda kontrol. Di perusahaan besar, kontrol mungkin berjalan dengan baik. Di usaha yang kecil, kontrol kurang sehingga meningkatkan risiko serangan," terang Adithya.
Untuk menanggulanginya, korporat dan individu perlu displin dalam mengelola data, mengklasifikasikan data berdasarkan sensitivitasnya, serta membuat regulasi tentang penggunaan platform untuk menganalisis dan berbagi.
Baca juga: AI Bantu Kurangi Miliaran Ton Karbon dari Sektor Pangan, Energi, dan Mobilitas
"Kuncinya bukan melarang. Itu tidak akan efektif," tegas Adithya.
Korporasi harus punya tools dan platform yang telah disetujui penggunaannya secara formal, melokalisasi data, serta menggunakan teknologi keamanan AI untuk menyaring data. Gunanya, sebelum menggunakan ChatGPT, misalnya, data sudah di-scan dan diamankan lebih dahulu.
Suryo Pratomo, Director and Head of Sales Ensign Infosecurity Indonesia mengatakan bahwa hingga saat ini, investasi perusahaan Indonesia untuk keamanan siber masih rendah.
"Perusahaan rata-rata mengalokasikan 10 persen budget untuk IT. Dari situ, yang terpakai untuk keamanan digital 10 persen dari totalnya. Jadi hanya 1 persen. Idealnya perusahaan alokasikan 5 persen untuk keamanan data," jelasnya.
Investasi bukan cuma alat, tetapi juga sumber daya manusia. Jika kebakaran punya fire drill, maka untuk meningkatkan awareness dan kesiapsiagaan serangan digital perlu cyber attack drill. Semua level dari chief hingga bagian komunikasi perusahaan perlu ikut serta.
“Organisasi tidak lagi bisa beranggapan bahwa sistem keamanan mereka sudah memadai. Mereka perlu memeriksa ulang sistem keamanan mereka secara berkala, menambal kerentanan yang ada dalam sistem, dan memastikan sistem keamanan siber mereka tetap relevan dalam menghadapi ancaman siber saat ini," jelas Adithya.
Baca juga: Pemakaian AI Melesat, Pertanian Asia Pasifik Bakal Lebih Adaptif Iklim
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya