KOMPAS.com - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB menyatakan bahwa curah hujan yang lebih intens dan banjir bakal semakin sering terjadi, dengan konsekuensi mematikan bagi komunitas yang tidak siap.
“Banjir bandang bukanlah hal baru, tetapi frekuensi dan intensitasnya meningkat di banyak wilayah akibat urbanisasi yang cepat, perubahan tata guna lahan, dan perubahan iklim,” kata Stefan Uhlenbrook, Direktur Hidrologi, Air, dan Kriosfer WMO.
Setiap kenaikan suhu satu derajat Celcius memungkinkan udara menahan sekitar 7 persen lebih banyak uap air.
“Hal ini meningkatkan risiko hujan yang lebih ekstrem. Pada saat yang sama, bahaya banjir yang berkaitan dengan gletser meningkat akibat meningkatnya pencairan es di iklim yang lebih hangat,” tambahnya, dikutip dari laman resmi United Nations, Senin (21/7/2025).
Banjir bandang bahkan merenggut ribuan nyawa setiap tahun dan menyebabkan kerugian miliaran dolar.
Baca juga: Cegah Banjir, Properti Ilegal di Hulu DAS Ciliwung Dibongkar
Pada 2022, banjir dahsyat di Pakistan menewaskan lebih dari 1.700 orang, 33 juta orang terdampak, dan kerugian melebihi 40 miliar dolar AS, membalikkan kemajuan pembangunan yang telah dicapai selama bertahun-tahun.
Tahun ini banjir terus berlanjut. Salah satunya dialami oleh Korea di mana hujan deras yang memecahkan rekor terjadi antara 16-20 Juli dengan curah hujan melebihi 115 mm per jam di beberapa lokasi. Setidaknya 18 orang tewas dan lebih dari 13.000 orang dievakuasi.
Sementara itu di benua Amerika, banjir bandang terjadi di Texas, AS pada 3 hingga 4 Juli yang menewaskan lebih dari 100 orang serta menyebabkan puluhan orang hilang.
Banyak korban adalah gadis-gadis muda di perkemahan musim panas, yang tidak menyadari ketika banjir menerjang tempat tidur sekitar pukul 4 pagi. Meskipun Badan Meteorologi Nasional AS telah mengeluarkan peringatan sebelumnya, sirene lokal tidak berbunyi dan peringatan terakhir datang ketika sebagian besar penduduk sedang tidur.
Namun tidak semua banjir disebabkan oleh hujan.
Para ilmuwan di Pusat Internasional untuk Pengembangan Pegunungan Terpadu (ICIMOD), mitra WMO, mengatakan banjir yang berasal dari gletser di wilayah Hindu Kush-Himalaya terjadi jauh lebih sering daripada dua dekade lalu, ketika satu banjir mungkin terjadi setiap lima hingga 10 tahun.
Pada bulan Mei dan Juni 2025 saja, tiga banjir akibat letusan gletser melanda Nepal, Afghanistan, dan Pakistan, dengan dua lagi di Nepal pada 7 Juli. Jika pemanasan global terus berlanjut, risiko banjir semacam itu dapat meningkat tiga kali lipat pada akhir abad ini.
Baca juga: Banjir Berpotensi Lepaskan Bahan Kimia Berbahaya
WMO pun makin gencar meningkatkan kemampuan prakiraan banjir. Mereka melakukannya lewat inisiatif global dan platform panduan real-time yang sudah dipakai di lebih dari 70 negara.
Sistem ini menggabungkan data satelit, radar, dan model cuaca canggih untuk memprediksi potensi banjir jauh-jauh hari. Kini, sistem ini sedang dikembangkan agar bisa diterapkan dan terhubung di berbagai negara.
Sebuah studi Bank Dunia tahun 2022 memperkirakan bahwa 1,81 miliar orang atau hampir seperempat dari populasi dunia secara langsung rentan terhadap banjir yang terjadi sekali dalam 100 tahun.
Dari jumlah tersebut, 89 persen tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
PBB melalui inisiatif "Peringatan Dini untuk Semua" bertekad agar pada tahun 2027, semua orang di seluruh dunia sudah memiliki akses dan terlindungi oleh sistem peringatan dini bencana.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya