Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Berpotensi Lepaskan Bahan Kimia Berbahaya

Kompas.com, 12 Juli 2025, 19:40 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dalam laporannya Frontiers 2025: The Weight of Time memperingatkan bahwa peningkatan banjir sungai dan pesisir dapat membuat orang terpapar polutan beracun yang sudah lama terpendam di dalam air dan sedimen.

Bahan kimia berbahaya yang sudah lama mengendap di dasar sungai dan danau itu terdiri dari logam berat seperti timbal, kadmium, yang beracun bahkan pada konsentrasi rendah serta bahan kimia buatan yang sulit terurai seperti pestisida, bahan kimia sintetis, produk sampingan dari proses industri, dan pembakaran sampah.

Kedua kategori bahan kimia yang tidak mudah hancur itu rentan terakumulasi di lumpur serta berisiko tersebar oleh banjir, menyebarkannya ke berbagai tempat.

Baca juga: Lingkungan Kotor dan Banjir Picu Leptospirosis, Pakar: Ini Bukan Hanya Soal Tikus

Bahan kimia berbahaya ini bahkan juga tidak langsung menghilang dan bisa terus bertahan selama puluhan tahun.

Mengutip Down to Earth, Sabtu (12/7/2025) laporan UNEP selanjutnya menjelaskan pula, polutan ini dapat masuk ke rantai makanan dan menumpuk di dalam tubuh makhluk hidup, termasuk manusia.

Bahan-bahan itu sangat berbahaya dan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari kerusakan saraf dan organ hingga kanker.

UNEP memberikan contoh nyata saat Badai Harvey melanda Texas pada tahun 2017 memicu banjir yang melepaskan sejumlah besar sedimen. Sedimen ini membawa konsentrasi bahan kimia karsinogenik dan merkuri yang sangat tinggi ke area Teluk Galveston di Texas.

UNEP pun mendesak lebih banyak penelitian untuk menguji sedimen yang tercemar. Tujuannya adalah untuk memahami seberapa besar bahaya yang bisa ditimbulkan oleh banjir terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Apalagi makin banyak wilayah semakin sering terpapar banjir sungai dan banjir pesisir. Hal ini terjadi karena tren peningkatan intensitas dan besaran curah hujan yang terkait dengan badai tropis.

Selain masalah polutan lama, sumber polutan baru juga mengkhawatirkan. Contohnya, ada jutaan ton limbah bahan kimia organik yang sulit terurai dari produksi industri yang saat ini tersimpan di TPA di seluruh dunia.

Lebih lanjut, para ahli merekomendasikan perpaduan antara metode tradisional dan pendekatan baru untuk mengatasi banjir.

Baca juga: Cegah Banjir di Jabodetabek, BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca 24 Jam

Caranya adalah dengan membangun infrastruktur yang terinspirasi alam, memulihkan ekosistem seperti hutan dan lahan basah, serta mendesain kota yang lebih cerdas dalam mengelola air.

Ahli juga merekomendasikan pendekatan yang lebih menyeluruh, yaitu membuat rencana pengelolaan daerah aliran sungai yang mampu menyeimbangkan upaya menahan banjir, menjaga kelestarian sungai, dan mengelola semua kebutuhan air.

Selain itu, UNEP menekankan perlunya pemantauan polutan secara rutin di setiap sungai karena badai makin parah.

Namun, pendekatan ini mengharuskan kita untuk terus-menerus memantau dan mengevaluasi kebijakan yang ada, lalu menyesuaikannya berdasarkan perkembangan ilmu terbaru.

Dan yang terpenting adalah melibatkan masyarakat lokal dan pengetahuan mereka dalam proses pemantauan dan pengambilan keputusan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
LSM/Figur
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Pemerintah
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
LSM/Figur
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Swasta
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
Pemerintah
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Pemerintah
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
LSM/Figur
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
Pemerintah
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Swasta
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Pemerintah
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Swasta
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Pemerintah
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
Pemerintah
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau