Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WHO: Chikungunya Bisa Jadi Epidemi Global, 5,6 Miliar Orang Terancam

Kompas.com, 24 Juli 2025, 17:34 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja mengeluarkan peringatan serius pada hari Selasa, (22/7/2025).

WHO memperingatkan ada risiko besar virus chikungunya bisa menyebabkan epidemi global. Oleh karena itu, WHO mendesak semua pihak untuk segera bertindak mencegah penyebarannya.

WHO menyatakan bahwa mereka menemukan tanda-tanda peringatan dini yang persis sama seperti pada wabah besar dua dekade lalu, dan ingin mencegah terulangnya kejadian serupa.

Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk, menyebabkan demam dan nyeri sendi parah yang seringkali melumpuhkan. Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa mematikan.

"Chikungunya bukanlah penyakit yang dikenal luas, tetapi telah terdeteksi dan ditularkan di 119 negara secara global, menempatkan 5,6 miliar orang dalam risiko," kata Diana Rojas Alvarez dari WHO, dikutip dari Science Alert, Rabu (24/7/2025).

Baca juga: Cuaca Panas Picu Peningkatan Penyakit yang Ditularkan Nyamuk

Ia mengingat bagaimana dari tahun 2004 hingga 2005, epidemi chikungunya besar melanda Samudra Hindia, menyerang wilayah pulau-pulau kecil sebelum menyebar secara global dan memengaruhi hampir setengah juta orang.

WHO menyatakan bahwa mereka kembali melihat pola wabah chikungunya yang mengkhawatirkan. Sejak awal 2025, Reunion, Mayotte, dan Mauritius mengalami wabah besar, bahkan sepertiga penduduk Reunion diperkirakan sudah terinfeksi.

Virus tersebut kini juga menyebar ke tempat lain di kawasan tersebut, seperti Madagaskar, Somalia, dan Kenya.

"Penularan epidemi juga terjadi di Asia Selatan," tambahnya.

Menyebar ke Eropa

Sementara itu, kasus chikungunya yang dibawa dari luar telah terdeteksi di Eropa, terutama dari wabah di Samudra Hindia. Bahkan, Prancis sudah melaporkan penularan lokal, dan Italia pun mencurigai adanya kasus serupa.

"Karena pola penularan ini terlihat pada wabah dari tahun 2004 dan seterusnya, WHO menyerukan tindakan mendesak untuk mencegah sejarah terulang kembali," kata Rojas Alvarez.

Ia mencatat bahwa tingkat kematian kasus kurang dari satu persen, tetapi jika dihitung jutaan kasus, satu persen itu bisa menjadi ribuan kematian.

"Kami membunyikan alarm sejak dini agar negara-negara dapat bersiap sejak dini, mendeteksi, dan memperkuat semua kapasitas untuk menghindari wabah yang sangat besar," katanya.

Baca juga: Atasi Inflasi Biaya Kesehatan, Mahasiswa UGM Ciptakan Skema Asuransi Cerdas Berbasis AI

Menurut WHO, gejala chikungunya mirip dengan demam berdarah dengue dan penyakit virus Zika, sehingga sulit untuk didiagnosis.

Virus Chikungunya ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi, yang paling umum adalah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Nyamuk yang terakhir, yang dikenal sebagai nyamuk harimau, bermigrasi lebih jauh ke utara seiring dengan pemanasan global akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Mereka menggigit terutama pada siang hari, dengan aktivitas puncak seringkali pada pagi dan sore hari.

Di wilayah dengan populasi yang sedikit atau tidak memiliki kekebalan, virus ini dapat dengan cepat menyebabkan epidemi yang signifikan, yang memengaruhi hingga tiga perempat populasi.

WHO mengimbau masyarakat untuk melindungi diri melalui langkah-langkah seperti menggunakan obat nyamuk dan tidak membiarkan air menggenang di wadah seperti ember, tempat nyamuk dapat berkembang biak.

Baca juga: Vaksinasi Kurangi Risiko Kematian karena Demam Berdarah pada Anak

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau