KOMPAS.com - Seiring naiknya suhu di berbagai belahan dunia, orang makin sering menyalakan pendingin ruangan (AC).
Namun, yang mungkin banyak tak disadari adalah embusan udara dingin ke ruangan itu justru mendorong pemanasan global.
Akibatnya, makin banyak orang lagi yang tergantung dengan teknologi pendingin ruangan itu dan pada akhirnya menciptakan lingkaran setan yang tak berujung.
Perubahan iklim, urbanisasi yang pesat, peningkatan pendapatan, dan pertumbuhan populasi mendorong permintaan yang sangat besar terhadap AC secara global, terutama di negara-negara berkembang.
Akses terhadap pendingin ruangan sangat penting bagi kesehatan, mengurangi kematian akibat panas, membantu anak-anak belajar di sekolah, dan meningkatkan produktivitas pekerja.
Namun, konsumsi energi AC yang tinggi dan dampaknya terhadap iklim seringkali terabaikan.
Baca juga: Pemanasan Global Bisa Ubah Pola Hujan, Timbulkan Kekeringan dan Banjir
Melansir Eco Business, Rabu (30/7/2025), menurut badan lingkungan PBB, (UNEP), jika tidak ada tindakan cepat, emisi dari pendinginan yang menyebabkan pemanasan bumi bisa menyumbang lebih dari 10 persen dari total emisi pada tahun 2050.
Sebagai perbandingan, penerbangan saat ini menyumbang sekitar 2,5 persen dari emisi CO2 global.
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan permintaan pendingin ruangan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2016.
Pertumbuhan tercepat diprediksi terjadi di Afrika dan Asia Selatan.
India diperkirakan akan memiliki 1,1 miliar unit pada tahun 2050, lebih dari 10 kali lipat jumlah saat ini, menurut perkiraan IEA.
Namun, bahkan negara-negara yang lebih dingin seperti Inggris, di mana AC rumahan masih jarang digunakan, penjualannya melonjak.
Lantas bagaimana AC menyebabkan perubahan iklim?
AC boros listrik. Sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yang melepaskan CO2 yang memerangkap panas.
AC juga menggunakan refrigeran yang memiliki potensi pemanasan global ratusan atau bahkan ribuan kali lebih besar daripada CO2.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya