Menurut UNEP hampir 40 persen emisi AC rumahan disebabkan oleh refrigeran.
Di kawasan permukiman, AC dapat memperburuk efek pulau panas perkotaan karena mengeluarkan udara hangat ke jalan-jalan kota, yang berpotensi meningkatkan suhu lebih dari 1 derajat Celsius di malam hari.
Kabar baiknya adalah produsen sedang mengembangkan model yang semakin hemat energi dan teknologi pintar dapat memastikan AC tidak mendinginkan ruangan dan kantor kosong secara berlebihan.
Para ilmuwan juga berinovasi dengan refrigeran yang lebih ramah lingkungan dan bahkan teknologi AC baru yang tidak memerlukan refrigeran.
Namun, memproduksi AC ultra-efisien dengan harga terjangkau masih menjadi masalah, dan AC tersebut belum tersedia secara komersial.
Baca juga: Permukaan Laut Tetap Naik meski Pemanasan Global Dibatasi 1,5 Derajat C
Banyak negara telah menandatangani Ikrar Pendinginan Global, yang menyerukan pengurangan emisi terkait pendinginan setidaknya 68 persen pada tahun 2050 dibandingkan tingkat emisi pada tahun 2022.
UNEP mendesak negara-negara untuk memprioritaskan langkah-langkah pendinginan pasif, meningkatkan efisiensi energi, dan mempercepat pengurangan refrigeran yang menyebabkan pemanasan global.
Beberapa cara yang bisa ditempuh adalah dengan desain bangunan yang baik yang menggabungkan langkah-langkah pendinginan pasif seperti insulasi, ventilasi alami, dan naungan dapat secara drastis mengurangi kebutuhan pendingin udara termasuk juga menanam pohon.
Lalu, inovasi pendinginan pasif berteknologi tinggi mencakup kaca pintar pemblokir sinar matahari dan cat yang memancarkan panas kembali ke angkasa.
Selain itu beralih ke unit AC yang lebih hemat energi juga akan memangkas konsumsi energi - dan emisi CO2. Secara global, rata-rata AC baru yang terjual sekitar setengah efisiensinya dibandingkan AC terbaik yang tersedia.
Dalam hal ini pemerintah dapat mendorong perubahan dengan menerapkan standar kinerja energi yang lebih ketat, pelabelan yang jelas untuk membantu konsumen memilih model yang lebih efisien, insentif untuk menurunkan biaya, dan regulasi untuk mencegah pembuangan unit lama yang berpolusi di negara-negara berkembang.
Baca juga: Pakar UGM Sebut Perubahan Iklim Ancam Pola Hujan dan Pertanian Indonesia
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya