Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Tanpa konektivitas lanskap ini, populasi orangutan Tapanuli yang diperkirakan hanya tersisa sekitar 800 individu akan menghadapi tekanan genetik dan habitat yang tidak memadai. Jika tren ini berlanjut, proyeksi penurunan populasi akan menjadi tak terhindarkan.
Sayangnya, pembangunan infrastruktur seperti jalan dan pembangkit listrik justru mempercepat fragmentasi tersebut.
Sebagaimana diketahui, visi pembangunan Sumatra Utara dalam lima tahun ke depan mengusung semangat “Kolaborasi Sumut Berkah menuju Sumatra Utara yang Unggul, Maju, dan Berkelanjutan”.
Baca juga: PLTA Batang Toru Beroperasi Akhir Tahun, Pasok Listrik Bersih Sumatera
Namun, semangat tersebut akan lebih berarti dengan adanya revisi terhadap model ekonomi ekstraktif dan keberpihakan yang tegas terhadap perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi. Dengan demikian, konsep keberlanjutan tidak hanya menjadi jargon dalam dokumen perencanaan.
Batang Toru adalah cermin dari pilihan moral dan arah pembangunan kita: apakah kita membiarkan lanskap kritis ini terkikis oleh kompromi politik dan ekonomi, atau kita memilih keberanian untuk menata ulang relasi antara manusia, alam, dan negara.
Konservasi bukan hanya soal menyelamatkan satwa langka, melainkan tentang menjaga sistem kehidupan yang menopang masyarakat, menjaga air, pangan, dan iklim yang stabil.
Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Model pengelolaan terpadu yang inklusif dan kolaboratif harus tetap melibatkan masyarakat adat, akademisi, lembaga lingkungan, dan sektor swasta progresif yang bernaung dalam satu kerangka kebijakan yang mengikat dan menuju pada tujuan dan target pengelolan ekosistem Batang Toru yang lebih baik.
Karenanya, perlu ada komitmen untuk membangun skema pembiayaan berkelanjutan, memperkuat dasar hukum perlindungan ekosistem, dan memastikan bahwa partisipasi masyarakat bukan sekadar simbolik.
Sumatra Utara memiliki kesempatan untuk menjadi contoh. Tetapi kesempatan ini hanya akan bermakna jika disertai dengan keputusan sulit yakni menolak proyek yang merusak dan berani menyusun ulang prioritas pembangunan.
Batang Toru sedang menguji keberanian itu. Apakah kita siap menjawabnya?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya