Richardson mengatakan bahwa program-program dari badan amal misalnya, program #30DaysWild dari Wildlife Trusts masih penting.
Baca juga: Pantai Bisa Jadi Kelas Alam, Tempat Belajar Keragaman Burung Laut
Namun, pemodelan menunjukkan bahwa program-program tersebut tidak menghentikan hilangnya hubungan dengan alam dari generasi ke generasi.
Langkah-langkah yang lebih efektif adalah menanamkan kesadaran dan interaksi dengan alam pada anak-anak dan keluarga muda, misalnya melalui sekolah hutan.
Kendati demikian terdapat hambatan lain dalam upaya memulihkan hubungan dengan alam. Model menunjukkan bahwa kebijakan untuk mentransformasi pendidikan usia dini dan wilayah perkotaan harus diimplementasikan dalam 25 tahun mendatang untuk membalikkan tren penurunan ini.
Namun, jika berhasil, peningkatan hubungan dengan alam akan menjadi berkesinambungan.
"Bekerja sama dengan keluarga dan orang tua untuk melibatkan anak-anak dengan alam, dengan fokus nyata pada penurunan minat dari generasi ke generasi, adalah kuncinya," papar Richardson.
"Mempertahankan ketertarikan itu sepanjang masa kanak-kanak dan sekolah mereka adalah hal yang esensial, di samping penghijauan perkotaan," pungkasnya.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim Meluas, DPR Dorong Pengesahan RUU EBT
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya