Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar Resiliensi Agrifood, IPB Ajak Akademisi dari 7 Negara Kunjungi Kepulauan Seribu

Kompas.com, 20 Agustus 2025, 21:44 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Krisis iklim dan ketidakpastian global membuat dunia pendidikan dituntut lebih kreatif dalam menghadapi tantangan masa depan.

Salah satu upaya itu dilakukan oleh Departemen Manajemen IPB dengan menggelar Summer Course bertema “Manajemen Agrifood yang Resilien dan Berkelanjutan di Tengah Ketidakpastian Global pada 11–22 Agustus 2025.

Salah satu sesi dalam program ini adalah fieldtrip ke Taman Nasional Kepulauan Seribu pada Rabu (20/8/2025).

Baca juga: Mahasiswa IPB Latih Petani Olah Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik Cair

Dalam program ini, sebanyak 30 peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Rwanda, Afghanistan, dan Bangladesh mengunjungi Pulau Pramuka.

Para peserta diajak berkeliling untuk melihat fasilitas konservasi, serta belajar cara menanam lamun (sea grass), tumbuhan laut yang memiliki fungsi ekologis penting sebagai penyerap karbon, pelindung garis pantai, sekaligus habitat bagi beragam biota laut.

Kepala Seksi Taman Nasional Pulau Pramuka, Pitra, mengungkapkan bahwa menjaga keberlanjutan ekosistem laut seringkali berbenturan dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

“Pendekatan yang kami kedepankan adalah komunikasi dan persuasi dibandingkan penerapan aturan ketat, terutama saat berhadapan dengan masyarakat kecil,” kata Pitra di hadapan peserta.

Sementara itu, Dekan Faculty of Management Science Songkhla Rajabhat University (SKRU Thailand, Dr Pongsak, mengatakan pengalaman lapangan ini memberikan dimensi baru dalam memahami konsep manajemen berkelanjutan.

“Kunjungan ke Taman Nasional Kepulauan Seribu memberikan pengalaman berharga tentang bagaimana pendekatan komunikasi bisa mendukung konservasi laut. Hal ini sangat relevan dengan tantangan agrifood management di negara kami,” katanya.

Testimoni serupa datang dari peserta asal Afrika. Menurutnya, praktik yang dilihat di Indonesia bisa menjadi inspirasi untuk diterapkan di negaranya yang juga menghadapi tekanan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Baca juga: Guru Besar IPB Ungkap Nilai Jual Tanah Jadi Pemicu Utama Pembakaran Lahan

Demikian pula dengan peserta dari Myanmar yang mengaku baru mengetahui fungsi lamun yang memiliki peran ekologis.

Komitmen IPB untuk Global Engagement

Ketua Departemen Manajemen IPB Eko Ruddy Cahyadi menyatakan bahwa Summer Course ini dirancang tidak hanya untuk memperkaya pengetahuan, tetapi juga untuk membangun jejaring global di antara mahasiswa dan akademisi.

“Kami ingin mahasiswa internasional memperoleh pengalaman belajar mendalam tentang resiliensi dan manajemen agrifood berkelanjutan, lalu mengaplikasikannya di negara masing-masing,” kata Eko.

Menurut Eko, ke depan Departemen Manajemen IPB berkomitmen memperluas cakupan program serupa.

Baca juga: Guru Besar IPB: Bakar Lahan Jadi Cara Utama Demi Harga yang Lebih Murah

Tujuannya, agar mahasiswa Indonesia semakin terbuka dengan isu global sekaligus memperkenalkan praktik baik pengelolaan sumber daya di tanah air kepada dunia internasional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau