Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Ujian Bangsa Memahami Kekayaan Papua

Kompas.com, 21 Agustus 2025, 06:30 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SIAPAPUN yang melihat Papua hanya sebagai ujung peta akan terjebak dalam kedangkalan menilainya sebatas sebagai beban pembangunan.

Namun, siapa pun yang membaca Papua melalui data dan riset akan menyadari bahwa tanah ini adalah laboratorium alam dan kebudayaan, sekaligus ujian paling dalam atas mutu kenegarawanan kita.

Dan di situlah letak persoalannya, sebab hingga kini kita ternyata masih memandang Papua dengan cara keliru.

Papua menyimpan salah satu mozaik ekologi paling menakjubkan di muka bumi. Taman Nasional Lorentz, misalnya, diakui UNESCO sebagai kawasan lindung terbesar di Asia Tenggara dengan luas sekitar 2,35 juta hektare.

Kawasan ini menjadi warisan dunia karena memuat ekosistem lengkap, mulai dari pantai, rawa, hutan hujan dataran rendah, pegunungan, tundra alpina, hingga gletser tropis di Puncak Jaya.

Data konservasi menunjukkan Taman Nasional Lorentz menjadi habitat lebih dari 123 spesies mamalia yang mewakili 80 persen jenis mamalia di Tanah Papua, serta ribuan spesies tumbuhan endemik.

Di kawasan inilah burung Cenderawasih, Kasuari, hingga Kanguru pohon hidup berdampingan dalam satu bentang utuh, bukti bahwa Papua adalah bank keanekaragaman hayati yang nilainya setara dengan kawasan tropis terpenting dunia. Ia adalah bank penyangga kehidupan yang tidak memiliki padanan di wilayah lain di Indonesia (whc.unesco.org, 2025).

Beranjak ke laut, Lanskap Kepala Burung atau Semenanjung Doberai oleh para biolog disebut sebagai super hotspot keanekaragaman.

Baca juga: Pesan dari Pati: Jangan Pernah Menantang Rakyat

Jaringan kawasan konservasi laut di sini mencakup lebih dari 20 lokasi dengan luas gabungan sekitar 3,6 juta hektare, termasuk Raja Ampat, Teluk Cenderawasih, Kaimana, dan Fakfak.

Survei The Nature Conservancy dan Conservation International mencatat Raja Ampat memiliki lebih dari 600 spesies karang keras atau sekitar 75 persen dari total dunia, serta lebih dari 1.800 spesies ikan karang.

Publikasi di Marine Pollution Bulletin bahkan mengonfirmasi bahwa keanekaragaman ikan karang di Raja Ampat adalah yang tertinggi di dunia.

Fakta ini menunjukkan bahwa biodiversitas laut Papua bernilai strategis global, terlalu penting bila hanya direduksi sebagai sebuah objek wisata (nature.org, 2024).

Kekayaan mineral menambah bobot strategis Papua. Grasberg yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu tambang tembaga dan emas terbesar dunia, kini menjadi episentrum dinamika hilirisasi Indonesia.

Dampaknya langsung terasa pada arus ekspor konsentrat dan investasi smelter.

Data dari United States Geological Survey menempatkan Indonesia sebagai produsen tembaga utama dunia, dengan kontribusi terbesar justru berasal dari Grasberg di Papua.

Pada 2024, pemerintah mengeluarkan izin ekspor bagi Freeport untuk mengirim ratusan ribu ton konsentrat tembaga, angka yang berpengaruh pada dinamika pasar global.

Dengan kata lain, tembaga dan emas dari Papua bukan hanya komoditas lokal, melainkan bagian dari rantai pasok industri dunia yang menentukan harga, biaya olah, dan investasi di berbagai negara.

Setiap kebijakan tentang Papua berhubungan langsung dengan posisi Indonesia dalam ekonomi mineral internasional (U.S. Geological Survey, 2025).

Papua juga merupakan jantung protein masa depan. Perairan Arafura memiliki potensi lestari perikanan pelagis kecil sekitar 468.000 ton per tahun, dengan dominasi famili clupeidae dan carangidae.

Kajian lain menambahkan potensi lestari udang, cumi, dan lobster di Arafura yang mencapai ratusan ribu ton per tahun.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menegaskan bahwa perairan ini adalah salah satu lumbung perikanan nasional.

Namun laporan juga menunjukkan praktik penangkapan ikan ilegal serta lemahnya pencatatan logbook kapal, mengindikasikan kebocoran hasil laut dalam jumlah besar.

Riset tentang pengelolaan demersal menegaskan pentingnya rezim penangkapan optimal berbasis bioekonomi serta efek kebijakan moratorium kapal asing terhadap rente ekonomi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau