KOMPAS.com - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Virni Budi Arifianti, menegaskan bahwa konversi mangrove menjadi tambak udang hanya memberi keuntungan sesaat, sementara kerugian jangka panjangnya sangat besar.
Berdasarkan data Bank Dunia dan riset Assessing the Environmental and Socioeconomic Impacts of Mangrove Loss in Indonesia yang terbit Juli 2025, nilai ekonomi mangrove mencapai 885.000 dollar AS per hektar per tahun.
"Jadi, potensi kehilangan mangrove kalau kami uangkan nilainya sangat besar sekali," ujar Virni dalam webinar, Kamis (28/8/2025).
Baca juga: KKP Targetkan Produksi Ikan Naik Usai Revitalisasi Tambak Pantura
Ia menjelaskan, hampir 50 persen cadangan karbon di tanah akan hilang jika mangrove diubah menjadi tambak.
"Dengan hilangnya cadangan karbon terbesar (dari mangrove), yaitu di tanah ini akibat konversi mangrove menjadi penggunaan lain, maka otomatis dia menghasilkan emisi gas rumah kaca yang sangat besar juga," tutur Virni.
Penelitiannya berjudul The Jumbo Carbon Footprint of a Shrimp Carbon Losses from Mangrove Deforestation menunjukkan, konversi mangrove menjadi tambak kepiting dan udang di Kalimantan Timur menimbulkan jejak karbon raksasa.
"Ternyata, 1 kg udang windu ya, jejak karbonnya itu sama dengan apabila kita menghabiskan sekitar 2.000 liter bensin. Jadi, bisa membayangkan, kalau kita makan 1 kg udang windu, itu paling satu piring ya, itu tapi kalau udang windu itu diternakkan dari tambak yang dulunya adalah mangrove, maka emisi atau jejak karbon dari udang windu 1 kg itu hampir sama dengan membakar sekitar 2.000 liter bensin," jelasnya.
Virni tetap mendorong budidaya tambak udang. Namun, praktiknya harus dipastikan tidak merusak mangrove. Sebab, komoditas ini tetap penting bagi perekonomian Indonesia melalui ekspor.
Baca juga: Dinilai Tak Produktif, 78.550 Ha Tambak Udang di Pantura Bakal Diganti Budi Daya Tilapia
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya