Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Sebut PLTB Lepas Pantai Tingkatkan Fungsi Ekologis Perairan Pesisir

Kompas.com, 19 Desember 2025, 21:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi yang dilakukan oleh peneliti di Murdoch University, Australia dan Dalian Ocean University, China menemukan pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) lepas pantai dapat meningkatkan ekosistem laut dan mendiversifikasi rantai makanan akuatik.

Beberapa spesies ikan juga lebih melimpah dan memiliki biomassa lebih dari dua kali lipat di area PLTB.

Melansir Phys, Kamis (18/12/2025) temuan studi ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Global Ecology and Conservation, menunjukkan bahwa ekosistem perairan dapat memperoleh manfaat dari pembangunan PLTB lepas pantai.

Studi ini juga mengusulkan pendekatan multifaset untuk mendiversifikasi kehidupan air, membangkitkan listrik, sekaligus melakukan transisi ke energi bersih.

Baca juga: Petani Rumput Laut di Indonesia Belum Ramah Lingkungan, Masih Terhalang Biaya

Dr. James Tweedley dari Murdoch University mengatakan bahwa dampak positif terhadap ikan dan kehidupan air lainnya sebagian besar disebabkan oleh permukaan kasar dari tiang turbin.

Tiang tersebut menyediakan tempat bagi organisme sesil atau organisme yang tidak berpindah tempat seperti teritip dan tiram untuk tumbuh subur.

“Organisme-organisme ini berperan sebagai sumber makanan dan habitat penting bagi spesies lain, dan ini berdampak pada keanekaragaman dan kesehatan ekosistem secara keseluruhan,” kata Dr. Tweedley.

Dalam studi ini, peneliti membandingkan data dari PLTB lepas pantai Zhuanghe di Laut Kuning utara China dengan area kontrol tanpa turbin sekitar 6 km di sebelah timur selama tahun 2023 dan 2024.

Selama periode tersebut, area PLTB mengalami peningkatan aliran detritus (sisa organik), kematangan ekosistem yang lebih tinggi, dan secara keseluruhan, stabilitas ekosistem yang lebih besar.

Associate Professor Zhongxin Wu dari Dalian Ocean University mengatakan bahwa selain ikan demersal, area PLTB lepas pantai tersebut menciptakan ekosistem yang didominasi oleh benthos.

Itu adalah sebuah ekosistem yang kelangsungan hidupnya terutama ditopang oleh organisme yang hidup di atas atau di sekitar dasar laut.

Baca juga: Studi Sebut Teknologi Digital Efektif Ajarkan Keberlanjutan Laut pada Generasi Muda

"Ekosistem jenis ini menarik kehidupan air yang unik dan bahkan langka. Hasil penelitian kami menunjukkan pula bahwa di area PLTB lepas pantai, biomassa ikan bentik meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan area kontrol," ujar Associate Professor Wu.

Emeritus Profesor Neil Loneragan dari Murdoch University, salah satu pakar ikan dan kelautan terkemuka di Australia Barat mengatakan bahwa temuan ini memberikan landasan untuk memahami bagaimana PLTB lepas pantai berinteraksi dengan dan memengaruhi dinamika energi ekosistem serta sumber daya perikanan di perairan pesisir.

"Ekosistem yang didominasi oleh benthos ini sangat penting untuk siklus nutrisi, mendiversifikasi jaring-jaring makanan, dan bahkan menyimpan karbon," kata Loneragan.

"Hasil dari makalah penelitian ini sangat menggembirakan, menunjukkan bahwa turbin angin menciptakan lingkungan laut lokal yang berbeda dengan banyak atribut positif," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Swasta
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
LSM/Figur
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
LSM/Figur
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
LSM/Figur
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau