Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim di Pakistan: Banjir adalah Normal Baru, Petani Berjudi dengan Alam

Kompas.com, 1 September 2025, 10:04 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Krisis iklim berkontribusi terhadap banjir bandang di Pakistan Utara pada Agustus 2025, menewaskan ratusan orang dan merusak lebih banyak rumah, infrastruktur, serta mata pencaharian dibanding banjir bandang 2022.

Pakistan termasuk 10 negara paling rentan terhadap perubahan iklim, meski hanya menyumbang kurang dari 1 persen emisi global.

Menurut ahli ekologi Karachi, Rafi-ul-Haq, banjir kini menjadi bencana rutin setiap musim hujan.

"Banjir bukan lagi bencana langka di Pakistan. Menyebutnya sebagai 'kenormalan baru' bukanlah sesuatu yang berlebihan," ujar Haq, dikutip dari Anadolu Agency.

Wilayah barat laut Khyber Pakhtunkhwa terdampak paling parah, dengan sungai meluap, longsor, dan rumah runtuh yang mengubur keluarga.

Sejak akhir Juni 2025, hampir 800 orang tewas akibat banjir dan longsor.

Haq menambahkan, krisis iklim, pemanasan global, serta mencairnya gletser memperkuat intensitas hujan, sementara urbanisasi tak terencana, deforestasi, penyumbatan saluran air, dan lemahnya tata kelola menyumbang hingga 60 persen kerusakan.

Senada, pakar manajemen banjir Islamabad, Ahmed Kamal, menilai banjir kini menjadi “kondisi normal baru” akibat pergeseran pola musim hujan dan meningkatnya curah hujan.

Di Gilgit-Baltistan, gletser mencair cepat, memicu banjir luapan danau gletser. Distrik Chilas bahkan mencatat suhu ekstrem 49 derajat C pada Mei lalu.

"Gletser kami mencair sangat cepat, sementara musim dingin menyusut. Curah salju hampir 50 persen di bawah rata-rata tahun lalu," kata Kamal.

Baca juga: Ancaman Perubahan Iklim, Hutan Paling Beragam di Dunia Tak Mampu Adaptasi

Ancaman siklon juga meningkat sejak 2007, dipicu kenaikan suhu Laut Arab. Di saat sama, deforestasi puluhan tahun demi lahan pertanian dan perumahan telah menghilangkan penyangga banjir alami.

"Hal ini telah melipatgandakan frekuensi dan intensitas banjir," lanjutnya.

Bertaruh dengan Alam

Awal 2025, Menteri Perubahan Iklim Pakistan, Musadiq Malik, memperingatkan dampak mencairnya gletser pada jaringan sungai dan kanal yang bisa membawa konsekuensi bencana bagi ekonomi pertanian, yang menyumbang sekitar 24 persen PDB.

Banjir bandang menghancurkan infrastruktur dan lahan, membuat petani menanggung kerugian tanpa jaminan. Petani Balochistan, Muhammad Hashim, menggambarkan bertani sebagai perjudian dengan alam.

"Sepuluh tahun yang lalu, kami terpaksa meninggalkan tanah leluhur dan bermigrasi untuk mencari penghidupan. Lalu datanglah banjir dahsyat tahun 2022. Semua yang telah kami bangun kembali hanyut. Ladang kami hancur lagi. Tahun berikutnya, kami pindah lagi. Untuk sesaat, kami menemukan kedamaian," ujarnya kepada Al Jazeera.

Hashim mengaku tetap bertani meski berkali-kali menyaksikan tanaman gagal panen akibat banjir dan kekeringan.

Baca juga: Pariwisata Jadi Kontributor Pertumbuhan Ekonomi tapi Rentah Perubahan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau