Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebakaran Lahan Gambut Akibat El Nino Bisa Terulang pada 2027

Kompas.com, 15 September 2025, 21:58 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Jakarta, Kompas.com - Geographic Information System (GIS) Reasearch Analyst Pantau Gambut, Juma Maulana meminta pemerintah mengambil langkah pencegahan kebakaran lahan gambut akibat El Nino pada 2027 nanti.

Berkaca dari kejadian tahun 2015, 2019, dan 2023, El Nino memicu kebakaran di berbagai lahan gambut dengan lokasi yang sama.

"Ada suatu daerah di Kalimantan Tengah itu langganan terbakar. Ketika ada El Nino, pasti terbakar. Saya khawatir itu akan terulang lagi di tahun 2027 saat ada El Nino, angkanya akan cukup tinggi lagi," ujar Juma dalam konferensi pers, Senin (15/9/2025).

Padahal, untuk memulihkan lahan gambut membutuhkan waktu sekitar 100 sampai 200 tahun. Di sisi lain, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) telah dibubarkan per 31 Desember 2024.

"Apalagi, sekarang siapa yang akan melakukan restorasi, itu pertanyaan kita, karena BRGM sudah bubar. Adakah dana ke sana untuk melakukan restorasi secara masif seperti dahulu untuk mengurangi angka kebakaran ini? Kita tahu emisi kita paling tinggi itu masih berasal dari polusi dan kebakaran," tutur Juma.

Alih fungsi lahan gambut untuk perkebunan atau kepentingan lain perlu melewati proses pengeringan melalui kanalisasi. Menurut Juma, lahan gambut yang telah kering semakin rentan terbakar akibat El Nino.

Berdasarkan data karhutla 2023 saat El Nino, Pantau Gambut memproyeksikan 16 juta hektar dari total 24,2 juta hektar kesatuan hidrologis gambut (KHG) di Indonesia rentan terbakar, dengan sebaran terbesar di Sumatera dan Kalimantan.

Pantau Gambut mengecek 200 lahan gambut yang terbakar pada 2024, kata dia, hanya 1% saja menjadi hutan alami.

"Ini menandakan bahwasanya lahan gambut hari ini sudah semakin rusak, kebakaran juga masih sangat masif, dan kami khawatir ini akan terus berlanjut agenda eksplorasi lahan gambut," ucapnya.

Dampak kebakaran lahan gambut

Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Ade Chandra mengatakan, sebenarnya lahan gambut dalam kondisi basah. Namun, lahan gambut sengaja dikeringkan oleh korporasi untuk kepentingan penanaman monokultur sawit, akasia, sampai ekaliptus.

Lahan gambut yang kering menyebabkan sangat sulit dipadamkan jika terjadi kebakaran.

"Lahan gambut itu kalau sudah terbakar, susah sekali untuk dipadamkan. Ya, walaupun secepatnya, apinya tidak ada di permukaan, tapi sebenarnya apinya masih ada di dalam," ujar Ade.

Di sisi lain, kebakaran lahan gambut berdampak terhadap ekologi, serta kesehatan dan sosial-ekonomi masyarakat.

Kebakaran di lahan gambut berdampak terhadap kesehatan, sosial ekonomi, maupun ekologi.

Dari segi ekologi, kebakaran menghancurkan ekosistem gambut yang pemulihannya membutuhkan waktu hingga ratusan tahun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau