Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aksi Iklim Sederhana dan Berbiaya Rendah Bisa Selamatkan 725.000 Jiwa per Tahun

Kompas.com, 18 September 2025, 18:33 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Riset baru yang didukung oleh koalisi global berisi 29 kota di antaranya Greater Manchester, Lagos, Mexico City, dan Rio de Janeiro dan juga perusahaan-perusahaan layanan kesehatan seperti Reckitt dan Bupa serta peneliti dari Yale School of Public Health, Mode Economics, dan Sanofi, menunjukkan aksi iklim bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Menurut riset tersebut langkah-langkah adaptasi iklim yang sederhana bisa menyelamatkan lebih dari 725.000 jiwa setiap tahun dan mengurangi pengeluaran biaya kesehatan global hingga 70 miliar dolar AS.

Berdasarkan model baru, peneliti mengamati bagaimana serangkaian intervensi yang relatif berbiaya rendah, jika diterapkan secara masif, dapat meningkatkan hasil kesehatan sambil mengurangi emisi.

Penelitian itu kemudian menyimpulkan bahwa empat kelompok tindakan yang digerakkan oleh pemerintah kota bisa menyelamatkan lebih dari 725.000 jiwa setiap tahun.

Melansir Edie, Rabu (17/9/2025), empat langkah praktis yang dimaksud adalah langkah-langkah terkait panas dan kualitas udara, seperti penghijauan kota, atap yang sejuk (cool roofs), dan transportasi aktif, dapat mengurangi kematian akibat panas dan polusi sebesar 15 persen.

Baca juga: Cara Hitung “Bagian Adil” Terkait Aksi Iklim Bias, Negara Kaya Diuntungkan

Selanjutnya adalah peningkatan air, sanitasi, dan kebersihan mulai dari filter air rumah tangga hingga perbaikan infrastruktur. Aksi tersebut dapat mencegah 166.000 kematian per tahun pada 2030.

Sedangkan promosi gaya hidup sehat melalui desain kota dan resep sosial (social prescribing) dapat mencegah 131.000 kematian setiap tahun.

Sementara perangkat ketahanan komunitas, termasuk sistem peringatan dini dan kampanye kesadaran, dapat mengurangi tingkat kematian hingga 13 persen di beberapa kota.

Tidak hanya mencegah kematian saja, tindakan-tindakan tersebut juga dapat menghindari emisi karbon sebanyak 15,6 megaton dan menurunkan biaya layanan kesehatan sebesar 70 miliar dolar AS, jika diterapkan di 11.000 kota.

Diperkirakan pada tahun 2030, tingkat kematian di perkotaan akibat panas akan meningkat sebesar 45 persen, dan kematian akibat polusi udara akan meningkat 18 persen.

Total beban kematian gabungan ini lebih dari dua kali lipat dari kematian akibat kecelakaan transportasi.

Dan tanpa adanya intervensi (tindakan), para peneliti memperingatkan bahwa sistem kesehatan dapat didorong hingga berada di ambang kehancuran.

Baca juga: Bukan Hanya Surga, Pemimpin Agama Perlu Dorong Aksi Iklim di Mimbarnya

Sebelumnya, gelombang panas ekstrem di Eropa pada musim panas ini menyebabkan 24.400 kematian di 854 kota. Dari jumlah tersebut, 16.500 kematian di antaranya secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim.

Data ini berasal dari sebuah studi yang dilakukan oleh Imperial College London dan London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Para peneliti mengatakan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan suhu hingga 3,6 derajat C. Mereka memperingatkan bahwa perkiraan angka kematian yang mereka berikan hanya mewakili 30 persen dari populasi Eropa, yang menunjukkan bahwa jumlah kematian sebenarnya jauh lebih tinggi.

Pada awal tahun ini, para ilmuwan di Dartmouth College di New Hampshire juga memperkenalkan sebuah kerangka kerja yang menghubungkan emisi dari masing-masing perusahaan bahan bakar fosil dengan kerugian ekonomi regional yang disebabkan oleh panas ekstrem.

Perkiraan mereka menunjukkan bahwa hanya 111 perusahaan yang telah menyebabkan kerugian ekonomi global sebesar 28 triliun dolar AS sejak awal tahun 1990-an.

Saudi Aramco sendiri diperkirakan bertanggung jawab atas kerugian sebesar 2,05 triliun dolar AS, diikuti dengan ketat oleh Gazprom (2 triliun dolar AS) dan Chevron (1,98 triliun dolar AS).

Baca juga: Asia Tenggara Kini Jadi Magnet Hijau, Banjir Dana Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Pemerintah
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
Pemerintah
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Pemerintah
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
LSM/Figur
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau