Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim, Makluk Laut yang Tak Kasat Mata Pun Terancam

Kompas.com, 18 September 2025, 19:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sangat mudah untuk mengabaikan makhluk terkecil di lautan, namun ternyata beberapa di antaranya memainkan peran yang sangat besar dalam menjaga kelangsungan planet.

Salah satunya adalah Prochlorococcus, makhluk mikroskopis, bersel tunggal, dan sangat kecil.

Mikroba kecil ini menempati permukaan laut, terutama di lautan tropis dan subtropis. Mereka menciptakan makanan menggunakan sinar matahari dan karbon dioksida dan bekerja keras untuk menopang sebagian besar lautan.

Sayangnya, seiring dengan Bumi yang memanas, studi terbaru mengungkapkan bahwa Prochlorococcus mungkin tidak mampu mengatasi peningkatan suhu.

Dan hal itu dapat berdampak luas pada seluruh rantai makanan, mulai dari plankton, ikan, hingga paus.

Melansir Earth, Jumat (12/9/2025), Prochlorococcus bukan sembarang mikroba. Ia adalah organisme fotosintesis yang paling umum di lautan.

Baca juga: Kerusakan Laut Akibat Manusia Diproyeksikan Berlipat Ganda pada 2050

Organisme ini juga membantu menyediakan makanan bagi hewan-hewan kecil yang dimakan oleh hewan yang lebih besar, hingga ke tingkat rantai makanan yang lebih tinggi.

Mikroba ini juga berkontribusi sekitar 5 persen dari seluruh fotosintesis di Bumi artinya mereka membantu menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen, seperti halnya pohon.

Lebih dari 75 persen permukaan air laut dipenuhi Prochlorococcus. Itulah sebabnya para ilmuwan pernah berpikir mikroba ini mampu beradaptasi dan berkembang biak di dunia yang lebih hangat.

Namun ternyata itu ada batasnya.

Prochlorococcus lebih menyukai suhu antara 19 derajat C–30 derajat C. Begitu air menjadi lebih hangat dari itu, segalanya mulai berantakan. Pembelahan sel melambat secara signifikan, dan populasi menurun.

Sementara dalam studi baru yang dipimpin oleh François Ribalet, seorang profesor riset oseanografi di Universitas Washington terungkap bahwa bagian terhangat lautan, suhu diperkirakan akan meningkat lebih tinggi lagi dalam 75 tahun ke depan.

Model iklim memperkirakan banyak wilayah akan melampaui batas atas tersebut. Hal ini dapat menempatkan Prochlorococcus pada risiko serius di tempat-tempat di mana bakteri ini selalu paling umum.

“Untuk waktu yang lama, para ilmuwan mengira Prochlorococcus akan berkembang pesat di masa depan,” kata Ribalet.

Akan tetapi ternyata di wilayah terhangat mereka tidak berkembang dengan baik, yang berarti akan ada lebih sedikit karbon, lebih sedikit makanan untuk sisa jaring makanan laut.

Lebih lanjut, peneliti mengamati berbagai skenario iklim, dari ringan hingga berat.

Baca juga: Peta Global Ungkap Wilayah Laut Paling Terancam Sampah Plastik

Di daerah tropis, peningkatan suhu yang moderat dapat mengurangi produktivitas Prochlorococcus sebesar 17 persen. Dalam skenario terburuk, produktivitasnya bisa turun hingga 51 persen.

Secara global, penurunannya berkisar antara 10 persen hingga 37 persen, tergantung pada seberapa besar pemanasan planet ini.

"Mereka tidak akan punah, tetapi habitat mereka akan bergeser. Pergeseran itu dapat mengubah seluruh ekosistem di daerah tropis dan subtropis," terang Ribalet.

Kendati demikian tim peneliti menyebut ada kemungkinan terdapat versi Prochlorococcus yang tahan panas di luar sana yang menunggu untuk ditemukan.

“Jika bukti baru strain yang tahan panas muncul, kami akan menyambut baik penemuan itu. Ini akan memberikan harapan bagi organisme-organisme penting ini,” kata Ribalet.

Harapan itu mungkin saja datang. Namun untuk saat ini, Prochlorococcus mengirimkan pesan yang jelas: ia merasakan panas.

Dan itu bisa menjadi masalah bagi kita semua yang bergantung pada lautan yang sehat untuk bertahan hidup.

Studi lengkapnya dipublikasikan di jurnal Nature Microbiology.

Baca juga: Inisiatif Global Baru: IUCN Bentuk Kelompok Konservasi Mikroba

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau