KOMPAS.com - Sangat mudah untuk mengabaikan makhluk terkecil di lautan, namun ternyata beberapa di antaranya memainkan peran yang sangat besar dalam menjaga kelangsungan planet.
Salah satunya adalah Prochlorococcus, makhluk mikroskopis, bersel tunggal, dan sangat kecil.
Mikroba kecil ini menempati permukaan laut, terutama di lautan tropis dan subtropis. Mereka menciptakan makanan menggunakan sinar matahari dan karbon dioksida dan bekerja keras untuk menopang sebagian besar lautan.
Sayangnya, seiring dengan Bumi yang memanas, studi terbaru mengungkapkan bahwa Prochlorococcus mungkin tidak mampu mengatasi peningkatan suhu.
Dan hal itu dapat berdampak luas pada seluruh rantai makanan, mulai dari plankton, ikan, hingga paus.
Melansir Earth, Jumat (12/9/2025), Prochlorococcus bukan sembarang mikroba. Ia adalah organisme fotosintesis yang paling umum di lautan.
Baca juga: Kerusakan Laut Akibat Manusia Diproyeksikan Berlipat Ganda pada 2050
Organisme ini juga membantu menyediakan makanan bagi hewan-hewan kecil yang dimakan oleh hewan yang lebih besar, hingga ke tingkat rantai makanan yang lebih tinggi.
Mikroba ini juga berkontribusi sekitar 5 persen dari seluruh fotosintesis di Bumi artinya mereka membantu menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen, seperti halnya pohon.
Lebih dari 75 persen permukaan air laut dipenuhi Prochlorococcus. Itulah sebabnya para ilmuwan pernah berpikir mikroba ini mampu beradaptasi dan berkembang biak di dunia yang lebih hangat.
Namun ternyata itu ada batasnya.
Prochlorococcus lebih menyukai suhu antara 19 derajat C–30 derajat C. Begitu air menjadi lebih hangat dari itu, segalanya mulai berantakan. Pembelahan sel melambat secara signifikan, dan populasi menurun.
Sementara dalam studi baru yang dipimpin oleh François Ribalet, seorang profesor riset oseanografi di Universitas Washington terungkap bahwa bagian terhangat lautan, suhu diperkirakan akan meningkat lebih tinggi lagi dalam 75 tahun ke depan.
Model iklim memperkirakan banyak wilayah akan melampaui batas atas tersebut. Hal ini dapat menempatkan Prochlorococcus pada risiko serius di tempat-tempat di mana bakteri ini selalu paling umum.
“Untuk waktu yang lama, para ilmuwan mengira Prochlorococcus akan berkembang pesat di masa depan,” kata Ribalet.
Akan tetapi ternyata di wilayah terhangat mereka tidak berkembang dengan baik, yang berarti akan ada lebih sedikit karbon, lebih sedikit makanan untuk sisa jaring makanan laut.
Lebih lanjut, peneliti mengamati berbagai skenario iklim, dari ringan hingga berat.
Baca juga: Peta Global Ungkap Wilayah Laut Paling Terancam Sampah Plastik
Di daerah tropis, peningkatan suhu yang moderat dapat mengurangi produktivitas Prochlorococcus sebesar 17 persen. Dalam skenario terburuk, produktivitasnya bisa turun hingga 51 persen.
Secara global, penurunannya berkisar antara 10 persen hingga 37 persen, tergantung pada seberapa besar pemanasan planet ini.
"Mereka tidak akan punah, tetapi habitat mereka akan bergeser. Pergeseran itu dapat mengubah seluruh ekosistem di daerah tropis dan subtropis," terang Ribalet.
Kendati demikian tim peneliti menyebut ada kemungkinan terdapat versi Prochlorococcus yang tahan panas di luar sana yang menunggu untuk ditemukan.
“Jika bukti baru strain yang tahan panas muncul, kami akan menyambut baik penemuan itu. Ini akan memberikan harapan bagi organisme-organisme penting ini,” kata Ribalet.
Harapan itu mungkin saja datang. Namun untuk saat ini, Prochlorococcus mengirimkan pesan yang jelas: ia merasakan panas.
Dan itu bisa menjadi masalah bagi kita semua yang bergantung pada lautan yang sehat untuk bertahan hidup.
Studi lengkapnya dipublikasikan di jurnal Nature Microbiology.
Baca juga: Inisiatif Global Baru: IUCN Bentuk Kelompok Konservasi Mikroba
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya