JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem terjadi selama tiga hari ke depan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyebut hujan intensitas sedang hingga lebat bakal melanda beberapa wilayah pada sore sampai malam hari.
Menurut dia, memasuki dasarian kedua September sebagian wilayah Indonesia tengah mengalami masa peralihan.
"Periode 19-22 September 2025 cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan," kata Andri dalam keterangannya, Selasa (16/9/2025).
Lainnya, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.
Baca juga: BRIN Sebut 5 Faktor Gabungan Sebabkan Hujan Ekstrem hingga Banjir di Bali
Sementara, hujan dengan intensitas lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi di Bengkulu, Jawa Timur, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, serta Jawa Barat.
Andri menjelaskan, masa peralihan cuaca dipengaruhi berbagai dinamika atmosfer. Nilai Dipole Mode Index (DMI) yang negatif, dan hangatnya suhu muka laut di perairan wilayah Indonesia memicu peningkatan aktivitas konvektif.
"Aktivitas gelombang Kelvin, dan Madden Julian Oscillation diprediksi masih aktif hingga sepekan mendatang di sebagian wilayah Indonesia. Indikasi ini juga terlihat dari nilai outgoing longwave radiation yang secara signifikan menunjukkan nilai negatif, menandakan kecenderungan kuat akan pertumbuhan awan hujan," papar dia.
Faktor lainnya ialah sirkulasi siklonik yang memicu daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin. Maka dari itu, BMKG meminta masyarakat waspada terhadap potensi banjir genangan, dan tanah longsor.
Baca juga: Awal Musim Hujan Akhir 2025 Tidak Serentak, BMKG Ungkap Penyebabnya
"Masyarakat diharapkan memastikan saluran drainase tetap bersih dan tidak tersumbat, serta selalu memantau informasi cuaca resmi BMKG sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan kegiatan," ucap Andri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya