Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Sebut 5 Faktor Gabungan Sebabkan Hujan Ekstrem hingga Banjir di Bali

Kompas.com, 15 September 2025, 10:32 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengungkapkan lima faktor gabungan menyebabkan hujan ekstrem yang memicu banjir besar seperti di Bali.

Faktor pertama, pembentukan vorteks di Samudra Hindia yang saat ini berkembang menjadi bibit siklon tropis 93S. Erma menjelaskan, dinamika vorteks tersebut merupakan penyebab utama lantaran pembentukannya dimulai sejak awal September.

"Namun penguatan dan pergerakan yang semakin mendekat ke Sumatera dan Jawa baru dimulai sejak 10 September, dan meskipun kini telah semakin menjauh dan melemah, namun diprediksi siklonik vorteks di Samudra Hindia dapat terbentuk kembali," ujar Erma saat dihubungi, Minggu (14/9/2025).

Baca juga: BNPB: 7 Wilayah di Bali Terdampak Banjir dan Longsor

Selanjutnya, hujan ekstrem disebabkan kondisi suhu permukaan laut Samudra Hindia dan selatan Jawa yang memanas hingga 3 derajat celcius. Hal ini membuat sistem tekanan rendah terbentuk di selatan Indonesia, membentang dari Sumatera bagian Selatan hingga Nusa Tenggara Barat.

"Ketiga, pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Hindia juga didukung oleh fenomena Dipoles Mode negatif dan semakin menguat sejak awal September 2025 hingga mencapai minus 1,27 derajat celcius," tutur Erma.

Lalu, aktivitas gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) yang sedang aktif di Samudra Hindia turut memberikan dukungan bagi intensifikasi awan-awan konvektif berklaster di wilayah yang sama dengan badai tropis berada.

Kondisi itu memperkuat badai tropis dalam hal kekuatan penjalaran dari barat ke timur serta menyuplai klaster awan dari Samudra Hindia menuju Sumatera dan Jawa.

Terakhir, gelombang Rossby yang kini sedang aktif dan kuat berada di sekitar Jawa Timur, Bali, Lombok dan sekitarnya. Erma menyebut, pertemuan antara MJO dengan Rossby berada di area yang membentang dari 105–120 bujur timur yakni dari Lampung sampai Nusa Tenggara.

"Inilah yang menyebabkan intensitas hujan bisa mengalami lonjakan tiba-tiba atau ekstrem, karena dipicu oleh pertemuan atau interaksi antara gelombang MJO dan Rossby," papar Erma.

"Meeting point dua gelombang tersebut juga bisa berpindah-pindah secara acak dengan dinamis," imbuh dia.

Baca juga: Banjir Makin Intens, PBB: Perlu Peringatan Dini Lebih Cepat dan Merata

Banjir di Bali turut diperparah dengan perubahan iklim yang ditandai wet get wetter atau kemarau basah.

"Sebagian besar di Indonesia bagian selatan akan alami kemarau yang bersifat lebih basah, dan hujan ekstrem yang lebih sering terjadi sepanjang tahun," jelas dia.

Erma mewanti-wanti, kekeringan mengancam pada wilayah yang selama ini dikenal kering. Dia meminta masyarakat maupun pemerintah terus memantau hujan dari menit ke menit melalui data radar cuaca BMKG, guna memitigasi banjir.

"Selain itu juga penting untuk memantau selalu secara real time data hujan yang terekam oleh alat ukur cuaca yang tersebar di berbagai wilayah yang bisa diakses terbuka oleh publik yaitu jaringan pemantau hujan dari personal weather station," terang Erma.

Adapun hujan deras mengguyur Bali sejak Selasa (9/9/2025) malam hingga Rabu (10/9/2025) pagi mengakibatkan beberapa sungai meluap dan sistem drainase tak mampu menampung air.

Akibatnya, banjir besar melanda tujuh kabupaten/kota di Bali lalu merendam ratusan rumah, pasar tradisional, jalan utama, hingga menyebabkan bangunan roboh.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 18 orang meninggal, dengan lima orang lainnya masih dalam pencarian.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau