Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Maskapai Global Berkolaborasi untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan

Kompas.com, 20 September 2025, 18:38 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Grup yang terdiri dari maskapai-maskapai besar telah mengumumkan pembentukan oneworld BEV Fund, sebuah dana patungan senilai 150 juta dolar AS.

Dana ini akan dikelola oleh Breakthrough Energy Ventures, perusahaan investasi yang berfokus pada isu iklim dan didirikan dengan dukungan Bill Gates.

Tujuannya adalah untuk menghadirkan teknologi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) generasi baru ke pasar, sehingga penerbangan komersial bisa mengurangi polusi karbon.

Rencana ini melibatkan Alaska Airlines dan American Airlines sebagai investor utama.

Maskapai lain yang terlibat adalah IAG (pemilik British Airways), bersama dengan Cathay Pacific, Japan Airlines, dan Singapore Airlines.

Baca juga: Staf Maskapai Dunia Desak Industri Penerbangan Percepat Aksi Iklim

Melansir Know ESG, Jumat (19/9/2025) dengan menggabungkan sumber daya, perusahaan-perusahaan ini bermaksud untuk mempercepat pengembangan bahan bakar yang lebih bersih, yang dapat digunakan pada pesawat yang sudah ada tanpa perlu modifikasi mahal.

Para eksekutif mengatakan bahwa perjanjian individual antara satu maskapai dengan satu pemasok bahan bakar itu mahal.

Oleh karena itu, membentuk dana bersama melalui collective fund adalah cara yang lebih praktis untuk mendorong produksi bahan bakar yang lebih bersih dan terjangkau dalam skala besar.

Sektor penerbangan sendiri menghasilkan sekitar 2–3 persen dari total emisi gas rumah kaca global.

Sementara pilihan bahan bakar rendah karbon saat ini masih terbatas, dan SAF yang ada sekarang sebagian besar berasal dari minyak goreng bekas atau tanaman seperti kedelai dan tebu. Dan pasokan bahan bakar tersebut masih sangat langka.

International Air Transport Association (IATA) melaporkan bahwa pada tahun 2024, hanya ada satu juta metrik ton SAF, yang setara dengan hanya 0,3 persen dari total produksi bahan bakar jet global.

Meskipun produksinya diperkirakan akan mencapai 2,1 juta ton pada tahun 2025, jumlah ini masih jauh di bawah kebutuhan maskapai penerbangan.

Breakthrough Energy Ventures berencana untuk berinvestasi pada teknologi yang bisa mengurangi emisi, namun tetap menjaga biayanya mendekati harga bahan bakar jet biasa.

Baca juga: Dukung Penerbangan Ramah Lingkungan, UE Gelontorkan 4,3 Juta Dollar AS

Fokus penelitian mereka mencakup alga air asin yang direkayasa dan bahan bakar yang dihasilkan dari hidrogen dan karbon dioksida.

Perusahaan ini sebagian besar menghindari metode biofuel yang ada sekarang. Alasannya adalah karena bahan bakar tersebut masih mahal dan tidak dapat diproduksi dalam jumlah besar yang dibutuhkan oleh penerbangan global.

Maskapai penerbangan sendiri memiliki komitmen iklim yang sangat bergantung pada ketersediaan SAF yang lebih besar.

Alaska Airlines misalnya menargetkan mencapai emisi nol bersih pada tahun 2040, sementara target American Airlines adalah 2050.

Sebagian maskapai telah lebih dulu meneken kontrak pembelian jangka panjang, seperti investasi American Airlines senilai 75 juta dollar AS dengan Infinium yang berbasis di Texas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau