KUPANG, KOMPAS.com - Tim dosen dan mahasiswa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, memperkenalkan teknologi tungku hemat energi berbahan bakar oli bekas, untuk meningkatkan produktivitas garam bagi warga Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Teknologi ramah lingkungan itu diperkenalkan oleh para dosen dan mahasiswa saat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.
Tim dosen dan mahasiswa itu yakni Ir. Petrus Romeo, S.KM., M.Kes, Dr. Luh Putu Ruliati, S.KM., M.Kes, Diana Aipipidely, S.Psi., M.A, Muhammad Fikri Haikal, Ade Khezya Theofania Doko, dan Eva Magdalena Elisabeth Taklal.
Ketua Tim Pelaksana Kegiatan, Ir. Petrus Romeo, S.KM., M.Kes, mengatakan, kegiatan yang digelar sejak awal Bulan September 2025 itu mengusung tema peningkatan produktivitas pemasak garam melalui ergonomi kerja dan pemanfaatan energi alternatif, sebagai respons terhadap tantangan kesehatan kerja dan efisiensi produksi yang dihadapi kelompok usaha garam lokal.
Tim dosen dan mahasiswa lanjut Petrus, bersama-sama memberikan pelatihan ergonomi kerja, memperkenalkan teknologi tungku hemat energi berbahan bakar oli bekas, serta mendampingi mitra dalam pencatatan produksi dan pengelolaan usaha.
“Kami melihat langsung bagaimana para pemasak garam bekerja dalam kondisi yang penuh tantangan. Intervensi ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kesehatan kerja dan keberlanjutan usaha,” ujar Petrus, kepada Kompas.com, Senin (22/9/2025).
Petrus berharap, teknologi tungku hemat energi ini, bisa bermanfaat bagi para petani garam di Kabupaten Kupang.
Sementara itu, dosen Luh Putu Ruliati menambahkan, teknologi yang diperkenalkan ini dirancang agar mudah dirawat dan direplikasi oleh masyarakat.
“Kami ingin agar masyarakat bisa mandiri dalam menerapkan teknologi yang sederhana, murah, dan berdampak nyata," kata Ruliati.
Selain teknologi tungku hemat energi, pihaknya juga memberikan pelatihan teknik angkat-angkut beban dan penggunaan alat bantu kerja seperti gerobak dorong turut meningkatkan kenyamanan dan efisiensi kerja para pemasak garam.
Dia menyebutkan, mahasiswa yang terlibat juga aktif mendampingi proses pelatihan dan evaluasi.
Baca juga: Dinilai Tak Produktif, 78.550 Ha Tambak Udang di Pantura Bakal Diganti Budi Daya Tilapia
"Kegiatannya diawali dengan sosialisasi kepada seluruh mitra usaha garam, dilanjutkan dengan pelatihan teknik angkat-angkut beban yang ergonomis dan pemanfaatan energi alternatif," ujar dia.
Teknologi yang diperkenalkan dirancang sederhana agar dapat digunakan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat.
Untuk mendukung pemanfaatan energi alternatif tim pengabdian masyarakat telah menyerahkan sarana pendukung yaitu tungku pembakaran sebanyak lima buah beserta blower, oli bekas sebanyak 230 liter, gerobak dorong dan wadah seng.
"Gerobak dorong dan wadah seng ini turut diberikan untuk mendukung efisiensi dan kenyamanan kerja," imbuh Ruliati.
Menurut hasil evaluasi awal lanjut dia, penerapan teknologi dan pelatihan ergonomi berhasil menurunkan keluhan fisik seperti nyeri punggung dan sesak napas akibat paparan asap kayu bakar.
Selain itu, produktivitas garam meningkat hingga 30 persen, sementara biaya operasional menurun berkat penggunaan oli bekas sebagai bahan bakar alternatif.
"Mitra juga mulai menerapkan pencatatan produksi dan pengeluaran secara mandiri," kata dia.
Menurutnya, program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat menghasilkan inovasi tepat guna yang berdampak langsung pada kesejahteraan lokal.
Dia berharap, program ini menjadi model intervensi yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya.
Tim FKM Undana menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat dalam mengembangkan teknologi tepat guna yang sehat, efisien, dan berkelanjutan.
Maria, salah satu pemasak garap di Desa Tanah Merah, mengaku mendapat banyak manfaat dari program dari FKM Undana.
“Dulu kalau masak garam pakai kayu, asapnya bikin mata perih dan dada sesak. Sekarang pakai tungku oli, lebih cepat panas dan tidak bikin batuk. Gerobak dorong juga sangat membantu, jadi tidak terlalu capek angkut garam,” ujarnya.
Baca juga: Dinilai Tak Produktif, 78.550 Ha Tambak Udang di Pantura Bakal Diganti Budi Daya Tilapia
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya