Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Data Driven", dari Kebutuhan Administratif ke Strategi Bisnis Keberlanjutan

Kompas.com, 27 September 2025, 12:17 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Industri makanan dan minuman (mamin) nasional menjadi penopang ekonomi, menunjukkan pertumbuhan positif sekitar 5,9 persen sepanjang 2024 dengan nilai mencapai Rp 1.647 triliun.

Data United States Department of Agriculture (USDA) yang diolah GoodStats ini menegaskan peran krusial sektor mamin, yang juga menjadi prioritas dalam peta jalan pemerintah Making Indonesia 4.0.

Tuntutan transformasi ini bukan hanya soal peningkatan efisiensi, tetapi juga memastikan transparansi dan keberlanjutan.

Dalam kuliah tamu di Binus University, Group Head Corporate Information Technology Garudafood, Johanes D. Hartanto, menekankan di era industri 4.0, data telah bertransformasi dari kebutuhan administratif menjadi aset strategis menentukan arah bisnis yang lebih tepat, efektif, dan berkelanjutan.

"Dengan pemanfaatan teknologi digital, data dapat diolah menjadi wawasan yang real-time sehingga manajemen dapat merespons perubahan pasar dengan lebih cepat, mengantisipasi risiko, sekaligus membuka peluang baru," jelas Johanes.

Penerapan ini menjadi fundamental bagi komitmen ESG, di mana transparansi dan akuntabilitas adalah inti dari praktik keberlanjutan. Data terintegrasi memungkinkan perusahaan mengukur, melacak, dan melaporkan kinerja lingkungan dan sosial dengan akurasi tinggi.

Selain teknologi big data, Garudafood memanfaatkan teknologi mutakhir seperti Internet untuk Segala (IoT), cloud computing, Kecerdasan Buatan (AI), dan Pembelajaran Mesin (ML).

Penggunaan teknologi-teknologi ini menciptakan efisiensi yang terukur mulai dari lini produksi hingga proses distribusi. Dalam konteks ESG, efisiensi ini berarti pengurangan limbah, optimalisasi sumber daya, dan jejak karbon yang lebih terkelola.

Menurut Johanes, setiap langkah transformasi digital berjalan beriringan dengan tata kelola data kuat, didukung kebijakan dan program edukasi perlindungan data. Komitmen ini menunjukkan perpaduan inovasi digital dengan tanggung jawab sosial.

Dalam konteks ini, Garudafood menunjukkan pemanfaatan teknologi digital dan data adalah jembatan menuju bisnis kompetitif sekaligus bertanggung jawab terhadap aspek ESG (Environmental, Social, and Governance).

Upaya Garudafood menjalankan strategi keberlanjutan berbasis data ini telah diakui melalui sejumlah penghargaan, di antaranya Katadata Corporate Sustainability Awards (KCSA) dan TrenAsia ESG Award.

Ini menjadi bukti nyata transformasi digital dapat berjalan seiring dengan komitmen terhadap masyarakat dan lingkungan, sebuah pencapaian yang berakar pada tata kelola data yang kuat dan terintegrasi.

Dengan strategi ini, Johanes menegaskan pihaknya siap memperkuat posisi sebagai pemain utama industri makanan dan minuman nasional yang kompetitif sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Baca juga: Kenali Data Driven Agar Berbisnis Lewat TikTok Lebih Optimal

Data driven menjadi kunci untuk menciptakan efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan di tengah perubahan pasar yang cepat.

"Pemanfaatan data yang terintegrasi dan tata kelola yang kuat tidak hanya mendukung proses bisnis, tetapi juga memperkuat komitmen kami terhadap transparansi dan keberlanjutan," tutup Johanes.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
7 Resolusi Tahun Baru 2026 agar Hidup Lebih Ramah Lingkungan
7 Resolusi Tahun Baru 2026 agar Hidup Lebih Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Pemerintah
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Pemerintah
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Pemerintah
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
BUMN
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
LSM/Figur
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional 'Waste to Energy' Membengkak
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional "Waste to Energy" Membengkak
LSM/Figur
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
LSM/Figur
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Pemerintah
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Pemerintah
 RI Belum Maksimalkan  Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
RI Belum Maksimalkan Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
LSM/Figur
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Swasta
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Pemerintah
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
LSM/Figur
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau