Itu terjadi karena banyak kampus masih fokus pada pelatihan teknis konvensional, mengakibatkan para lulusan tidak memiliki kesiapan memadai untuk memenuhi tuntutan keahlian multidisiplin dalam proyek-proyek transisi energi.
Baca juga: IRENA: Energi Terbarukan Jadi Pilihan Termurah untuk Produksi Listrik
Persaingan untuk mendapatkan pekerja terampil juga semakin intens.
Hampir separuh dari seluruh insinyur listrik yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah pindah peran, perusahaan, atau industri sejak tahun 2021, dengan alasan kelelahan kerja dan kurangnya pekerjaan yang merangsang.
Sektor-sektor seperti TI dan teknologi, yang membutuhkan banyak keahlian yang sama, seringkali mampu memikat talenta dengan gaji yang lebih tinggi.
"Mengingat peningkatan kebutuhan energi listrik yang masif dan dipicu teknologi di masa depan, para petinggi di industri listrik global harus mewaspadai sejauh mana dampak dari kekurangan sumber daya manusia yang mengancam mereka," papar Andre Begosso, Mitra di Kearney.
"Saat ini jumlah insinyur yang memiliki keterampilan memadai sangat terbatas, sehingga mereka tidak mampu merealisasikan semua perubahan yang diperlukan dalam dekade ini dan kekurangan talenta ini kian memburuk," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya