Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Erwan Widyarto
Pegiat Desa Wisata dan Pengelolaan Sampah

Hidupku di antara media, pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) serta pengelolaan sampah. Pensiun dari profesi jurnalis, menekuni pengelolaan sampah melalui bank sampah dan menjadi pendamping pengelolaan desa wisata (community based tourism).

Gunung Ditutup karena Sampah: Cermin Buram Wisata Alam Kita

Kompas.com, 2 November 2025, 06:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

GUNUNG Gede Pangrango kembali “beristirahat.” Namun bukan karena letusan, longsor, atau kebakaran hutan seperti bencana yang biasa menimpa satu gunung. Tetapi, sejak 13 Oktober lalu, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ditutup sementara untuk pendakian karena alasan yang ironis : terlalu banyak sampah yang ditinggalkan manusia.

Betapa getir mendengar alasan ini. Di negeri yang menjual keindahan alam sebagai wajah pariwisatanya, sebuah gunung justru harus ditutup karena keindahan itu tercemar oleh perilaku pengunjung. Seakan kita diingatkan lagi, bahwa sebagian masyarakat belum benar-benar siap menjadi eco-tourist, wisatawan yang berbudaya lingkungan.

Data petugas Balai Besar TNGGP mencatat, setiap akhir pekan ribuan orang memadati jalur pendakian Cibodas, Gunung Putri, hingga Selabintana. Tiga jalur resmi pendakian menuju TNGGP. Di balik semangat menaklukkan puncak, tersisa jejak yang menyedihkan: plastik makanan ringan, kemasan sachet, botol minuman, hingga sisa kaleng gas portable. Dalam beberapa titik, tim patroli bahkan menemukan tumpukan sampah seperti mini-TPA.

Baca juga: Terlalu Banyak Sampah, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup

Fenomena ini menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa over-tourism telah menjangkiti wisata alam. Gunung tidak lagi diperlakukan sebagai ruang sakral untuk belajar kerendahan hati, tetapi sekadar lokasi untuk konten media sosial. Pendaki datang bukan untuk merenung, tadabur alam, melainkan karena FOMO. Fear of Missing Out, alias takut ketinggalan momen.

Kedua, sistem pengelolaan sampah di destinasi alam belum benar-benar adaptif terhadap lonjakan wisatawan. Edukasi, regulasi, hingga fasilitas pendukung sering kali tertinggal. Padahal, isu sampah di destinasi wisata bukanlah persoalan baru. Kita sudah terlalu sering mendengarnya, dari pantai hingga puncak gunung.

Kasus penutupan Gede Pangrango ini mestinya jadi titik balik yang memaksa kita meninjau ulang pola pikir dan tata kelola wisata alam di Indonesia. Pertama, perlu disadari bahwa sampah di gunung bukan sekadar urusan pendaki, tapi juga urusan sistem. Pengelola kawasan sering berhenti pada imbauan “bawa turun sampahmu,” tapi tak disertai mekanisme kontrol dan insentif yang jelas. Tidak ada sistem waste deposit (jaminan sampah) misalnya, yang membuat pendaki membawa kembali seluruh sampahnya turun.

Baca juga: 3 Jalur Pendakian Resmi Gunung Gede Pangrango, Simak Jarak ke Puncak

Di sisi lain, edukasi lingkungan bagi pendaki sering kali bersifat formalitas. Pelatihan zero waste hiking atau green camp tidak banyak dilakukan secara berkelanjutan. Komunitas pecinta alam sebenarnya sudah banyak berinisiatif, tapi belum semua pendaki –terutama pendaki yang FOMO tadi-- melewati ruang pembelajaran semacam itu.

Kedua, kita perlu berani mengakui bahwa pariwisata alam kita masih berorientasi pada jumlah, bukan kualitas. Selama target kunjungan menjadi tolok ukur keberhasilan, maka daya dukung lingkungan akan selalu terancam. Idealnya, pengelolaan taman nasional memiliki batas kunjungan harian yang disesuaikan dengan kapasitas ekologis dan kesiapan fasilitas. Pembatasan semacam ini mungkin tidak populer secara ekonomi, tapi lebih berkelanjutan bagi masa depan alam.

Ketiga, penutupan ini mestinya menjadi momentum bagi media dan masyarakat untuk meninjau ulang makna “wisata alam.” Bahwa mendaki gunung bukan hanya soal menaklukkan ketinggian, tetapi juga menundukkan ego. Gunung bukan destinasi untuk ditinggali jejak kita, melainkan ruang untuk belajar leave no trace — tanpa meninggalkan jejak.

Baca juga: Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Tutup Sementara Mulai 13 Oktober 2025

Gunung Gede Pangrango adalah simbol keseimbangan ekologi di Jawa Barat. Menjadi sumber air bagi jutaan warga, penyangga iklim, sekaligus ruang spiritual bagi banyak orang. Jika gunung sampai harus “menutup diri” karena perilaku kita, maka itu tanda bahwa relasi antara manusia dan alam sedang sakit.

Menjaga gunung seharusnya bukan tugas petugas taman nasional semata. Ia adalah panggilan moral setiap pendaki, setiap pegiat wisata, setiap warga bumi. Seperti dikatakan pegiat lingkungan legendaris Jane Goodall: kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, kita hanya meminjamnya dari anak cucu kita.

Penegasan ini disampaikan Jane Goodall dalam wawancara yang dimuat di laman University of Cambridge berjudul "My greatest hope is our young people". Dikatakannya, ‘We haven’t inherited this planet from our parents, we’ve borrowed it from our children’. Penutupan Gede Pangrango adalah peringatan keras. Bukan hanya agar kita berhenti membuang sampah, tetapi agar kita mulai membersihkan cara pandang — bahwa mencintai alam berarti menjaga martabatnya.

Baca juga: Operasi Bersih Sampah 2,4 Ton di Gunung Gede Pangrango, Didominasi Plastik

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau