JAKARTA, KOMPAS.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan alokasi subsidi liquefied petroleum gas atau LPG 3 kilogram diproyeksikan turun sekitar 21 persen dibandingkan target awal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Menurut Head of Center Indef, Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef, Abra Talattov, pemangkasan subsidi mencerminkan upaya pemerintah mengurangi ketergantungan energi bersubsidi melalui jaringan gas (jargas).
"Serta mengarahkan anggaran ke program energi alternatif yang lebih berkelanjutan," ujar Abra dalam keterangannya, Selasa (11/11/2025).
Pemerintah menargetkan pembangunan 115.264 sambungan rumah (SR) jargas pada tahap awal 2025, sebagai bagian dari rencana penambahan jaringan periode 2025-2026. Program tersebut diharapkan menjadi titik balik setelah sempat berhenti pada 2023–2024 lalu. Tujuannya memperluas akses energi bersih dan efisien bagi rumah tangga.
Baca juga: Bisa Suplai Listrik Stabil, Panas Bumi Lebih Tahan Krisis Iklim Ketimbang EBT Lain
"Selain itu, Menteri ESDM menargetkan pembangunan tambahan hingga 1 juta SR berikutnya di luar tahap awal tersebut. Jaringan gas rumah tangga diposisikan sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg, dengan klaim harga gas pipa yang lebih murah serta distribusi lebih praktis," ungkap dia.
Kendati demikian, pembangunan jargas sempat terhenti akibat keterbatasan anggaran. Indef menekankan bahwa ke depannya, kerja sama dengan badan usaha dan skema nota kesepahaman diperlukan untuk mempercepat realisasi proyek, memperkuat pendanaan, serta meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada rantai pasok pipa.
Diberitakan sebelumya, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menuturkan jargas memang menjadi alternatif pengganti LPG.
"Dari segi biaya, jargas sebenarnya lebih murah dibanding LPG. LPG kan mahalnya karena impor, lalu juga subsidi-nya besar. Kemudian yang kedua saya kira kompor listrik ditawarkan saja," jelas Fahmy saat dihubungi, Selasa (4/2/2025).
Baca juga: Ember Energy: Katanya Dunia Mau Gas Energi Bersih, Nyatanya Cuma Naik 2 Persen
Penyebaran jargas saat ini belum semasif LPG 3 kg yang dapat dibawa ataupun dipindahkan dengan mudah. Sistem perpipaannya pun terbatas, dan hanya bisa digunakan di rumah tangga saja. Apabila lokasi pemasangan jauh dari sumber gas, maka dibutuhkan pipa yang sangat panjang untuk membawa gas bumi.
"Tetapi itu sebagai diversifikasi ya saya kira bisa dimanfaatkan untuk memperluas (alternatif gas), yang bisa dilakukan pemerintah adalah memperpanjang jaringan pipa sehingga bisa menjangkau tempat-tempat yang lain," papar dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya