Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Ciptakan Teknologi Ubah Air Kotor Jadi Layak Minum, Jawab Krisis Air di Daerah

Kompas.com, 13 November 2025, 12:08 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menciptakan teknologi pengelolaan air agar layak diminum yang lebih efisien dan berkelanjutan, khususnya bagi daerah dengan krisis air.

Dewan Pengarah BRIN sekaligus Inovator Teknologi Pengolahan Air Bersih, I Gede Wenten, menjelaskan teknogi yang dikembangkan menggunakan rainwater harvesting atau pemanenan air hujan sistem remineralisasi. Air hujan akan disaring, disimpan, lalu diberi tambahan mineral alami seperti kapur dan magnesium sehingga layak diminum.

Ia menilai, teknologi itu potensial untuk wilayah yang masih memiliki curah hujan tinggi namun keterbatasan air tanah. Wenten juga memperkenalkan Atmospheric Water Generator (AWG), alat untuk mengembunkan uap air dari udara lembap.

Baca juga: WVI Luncurkan WASH BP 2.0, Strategi 5 Tahun Percepat Akses Air dan Sanitasi Aman

Alat ini cocok untuk digunakan di daerah pesisir atau pulau terpencil yang tidak memiliki sumber air sama sekali.

“Prinsip utamanya adalah memproses air tanpa menimbulkan dampak lingkungan baru, sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat,” ujar Wenten dalam keterangannya, Rabu (12/11/2025).

Dia menuturkan bahwa teknologi tersebut menjadi alternatif solusi di wilayah terpencil yang tidak memiliki sumber air, kendati masih boros listrik.

"Versi terbarunya bahkan dirancang menggunakan tenaga surya agar dapat berfungsi di daerah tanpa pasokan listrik maupun bahan bakar,” kata dia.

Untuk wilayah pesisir dan daerah payau, pengolahan air bersih dapat menggunakan teknologi solar still, yakni sistem penguapan air laut dengan panas matahari. Menurut Wenten, konsep itu sangat sesuai bagi komunitas nelayan atau masyarakat pesisir yang kerap menghadapi keterbatasan air bersih.

Baca juga: Gara-gara Sampah, Warga Sekitar Cipeucang Harus Hidup Bergantung Air Galon

“Bahkan, jika dikembangkan secara masif, alat ini bisa menjadikan daerah pesisir sebagai penghasil garam sekaligus air bersih,” ujar Wenten.

Peneliti turut mengembangkan alat pengolah air dengan pompa sepeda tanpa listrik, yang bermula dari kebutuhan air bersih saat penanganan bencana tsunami Aceh. 

Ia turut memperkenalkan Emergency Water Bag untuk menyediakan air bersih dalam operasi tanggap darurat bencana. Hanya dengan memasukkan air kotor ke satu sisi wadah, dan nantinya air bersih layak minum keluar di sisi lainnya.

Untuk pengolahan air bersih skala besar, inovasi yang telah dikembangkan antara lain non-modular membrane. Alat ini dapat ditanam di bawah tanah, sungai, atau reservoir PDAM.

“Tujuannya adalah menekan biaya energi sekaligus meningkatkan keandalan sistem air bersih di daerah dengan akses listrik terbatas,” kata Wenten.

Teknologi lainnya, IGW Groundwater Spring, sistem kolam dengan membran tertanam yang meniru fungsi mata air. Sistem ini bekerja dengan cara menempatkan lapisan batu mineral seperti magnesium, pasir silika, dan pasir besi di atas membran sebagai penyaring dan anti bakteri.

“Sistem ini juga memiliki kelebihan yaitu di permukaannya dapat ditanam sayuran hidroponik tanpa pupuk. Kemudian air yang merembes ke bawah akan menghasilkan air dengan kualitas setara mata air alami,” papar Wenten.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dukung Pembelajaran Anak Disabilitas, Wenny Yosselina Kembangkan Buku Visual Inklusif
Dukung Pembelajaran Anak Disabilitas, Wenny Yosselina Kembangkan Buku Visual Inklusif
LSM/Figur
Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Pemerintah
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Pemerintah
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
LSM/Figur
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
LSM/Figur
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
LSM/Figur
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
LSM/Figur
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
LSM/Figur
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
LSM/Figur
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Pemerintah
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
LSM/Figur
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau