JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menciptakan teknologi pengelolaan air agar layak diminum yang lebih efisien dan berkelanjutan, khususnya bagi daerah dengan krisis air.
Dewan Pengarah BRIN sekaligus Inovator Teknologi Pengolahan Air Bersih, I Gede Wenten, menjelaskan teknogi yang dikembangkan menggunakan rainwater harvesting atau pemanenan air hujan sistem remineralisasi. Air hujan akan disaring, disimpan, lalu diberi tambahan mineral alami seperti kapur dan magnesium sehingga layak diminum.
Ia menilai, teknologi itu potensial untuk wilayah yang masih memiliki curah hujan tinggi namun keterbatasan air tanah. Wenten juga memperkenalkan Atmospheric Water Generator (AWG), alat untuk mengembunkan uap air dari udara lembap.
Baca juga: WVI Luncurkan WASH BP 2.0, Strategi 5 Tahun Percepat Akses Air dan Sanitasi Aman
Alat ini cocok untuk digunakan di daerah pesisir atau pulau terpencil yang tidak memiliki sumber air sama sekali.
“Prinsip utamanya adalah memproses air tanpa menimbulkan dampak lingkungan baru, sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat,” ujar Wenten dalam keterangannya, Rabu (12/11/2025).
Dia menuturkan bahwa teknologi tersebut menjadi alternatif solusi di wilayah terpencil yang tidak memiliki sumber air, kendati masih boros listrik.
"Versi terbarunya bahkan dirancang menggunakan tenaga surya agar dapat berfungsi di daerah tanpa pasokan listrik maupun bahan bakar,” kata dia.
Untuk wilayah pesisir dan daerah payau, pengolahan air bersih dapat menggunakan teknologi solar still, yakni sistem penguapan air laut dengan panas matahari. Menurut Wenten, konsep itu sangat sesuai bagi komunitas nelayan atau masyarakat pesisir yang kerap menghadapi keterbatasan air bersih.
Baca juga: Gara-gara Sampah, Warga Sekitar Cipeucang Harus Hidup Bergantung Air Galon
“Bahkan, jika dikembangkan secara masif, alat ini bisa menjadikan daerah pesisir sebagai penghasil garam sekaligus air bersih,” ujar Wenten.
Peneliti turut mengembangkan alat pengolah air dengan pompa sepeda tanpa listrik, yang bermula dari kebutuhan air bersih saat penanganan bencana tsunami Aceh.
Ia turut memperkenalkan Emergency Water Bag untuk menyediakan air bersih dalam operasi tanggap darurat bencana. Hanya dengan memasukkan air kotor ke satu sisi wadah, dan nantinya air bersih layak minum keluar di sisi lainnya.
Untuk pengolahan air bersih skala besar, inovasi yang telah dikembangkan antara lain non-modular membrane. Alat ini dapat ditanam di bawah tanah, sungai, atau reservoir PDAM.
“Tujuannya adalah menekan biaya energi sekaligus meningkatkan keandalan sistem air bersih di daerah dengan akses listrik terbatas,” kata Wenten.
Teknologi lainnya, IGW Groundwater Spring, sistem kolam dengan membran tertanam yang meniru fungsi mata air. Sistem ini bekerja dengan cara menempatkan lapisan batu mineral seperti magnesium, pasir silika, dan pasir besi di atas membran sebagai penyaring dan anti bakteri.
“Sistem ini juga memiliki kelebihan yaitu di permukaannya dapat ditanam sayuran hidroponik tanpa pupuk. Kemudian air yang merembes ke bawah akan menghasilkan air dengan kualitas setara mata air alami,” papar Wenten.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya