Namun, seringkali sulit untuk mengetahui berapa banyak hujan atau salju yang akan terjadi.
“Efeknya sangat sulit ditunjukkan karena variabilitas alami awan yang besar,” kata Andrea Flossmann dari Universitas Clermont Auvergne di Prancis.
Iran sendiri menyatakan telah menyemai awan pada 15 November di cekungan di sekitar Danau Urmia yang selama dua dekade telah mengering menjadi dataran garam.
Menurut peta curah hujan University of California, Irvine, wilayah di sebelah barat danau menerima curah hujan hingga 2,7 sentimeter keesokan paginya.
Namun, untuk penyemaian awan guna mengisi kembali waduk hasilnya masih dipertanyakan. Pasalnya, awan harus mengandung banyak air. Awan seperti itu mungkin sulit ditemukan di Iran yang gersang, di mana tidak banyak badan air besar untuk menguapkan uap air ke udara.
"Penyemaian awan seringkali jauh lebih sulit selama musim kemarau karena atmosfernya sangat kering, dan awan yang ada mungkin tidak memiliki kelembapan yang cukup," kata Karen Howard, seorang ilmuwan di Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS.
Baca juga: Akhiri Krisis Air, Vinilon Group dan Solar Chapter Alirkan Air Bersih ke Desa Fafinesu NTT
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya