JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Laksmi Wijayanti, mengatakan nilai ekspor produk hasil hutan Indonesia stagnan. Kendati masih signifikan, angkanya hanya 12 miliar dollar AS per tahun.
"Memang masih angkanya dari produk hasil hutan kita masih berkisaran mutar ke sana. Kita pernah naik sempat di atas itu ya, 17 miliar tetapi sekarang memang cenderung masih stagnan," ungkap Laksmi di Jakarta Pusat, Kamis (25/11/2025).
Menurut dia, target ekspor produk kehutanan naik 3 persen setiap tahunnya. Hal ini mengacu pada pertumbuhan permintaan di pasar internasional
Baca juga: Di COP30, Kemenhut Ungkap Komitmen Rehabilitasi 12,7 Juta Ha Lahan Hutan
"Sehingga kalau kita ingin catch up dengan kebutuhan yang ada, market minimal seharusnya kita selalu tumbuh pertahun kalau bisa 2-3 persen supaya bisa menjaga daya saing kita," jelas dia.
Laksmi menyampaikan bahwa stagnasi ekspor tidak hanya disebabkan oleh aspek produksi, tetapi juga narasi kebijakan kehutanan yang belum tersampaikan secara utuh kepada publik.
Narasi yang begitu beragam di publik menimbulkan risiko terkait keberterimaan dan rentannya persepsi yang berubah-ubah. Perhatian publik juga kerap terseret pada isu karbon, rehabilitasi hutan, hingga politik perdagangan internasional.
"Kadang sulit ketika kemudian muncul sebuah konteks, saya contohkan saja misalnya tiba-tiba ada tuduhan greenwashing. Betapa sulit ketika kita menjembatani komunikasi itu," papar Laksmi.
Baca juga: Dorong Produk Hasil Hutan Bukan Kayu, Kemenhut Gelar Pasar Rehabilitasi Hutan
Padahal, pemerintah telah memiliki regulasi yang mengatur keberlanjutan produk hutan salah satunya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Dalam kesempatan itu, dia menuturkan Kemenhut tengah mendorong hilirisasi atau nilai tambah produk hutan yang berkualitas premium.
Komoditas yang saat ini paling banyak diekspor antara lain kayu, serta pulp dan kertas.
"Kami ingin produk-produk dari hutan kita bukan hanya mengisi market internasional yang nilainya rendah. Jadi hanya semi bahan baku tapi juga sudah kemudian ke produk-produk premium," kata Laksmi.
"Itu juga dasar mengapa tidak hanya kayu saja yang akan didorong tetapi juga hasil-hasil hutan bukan kayu," imbuh dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya