Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ratna Puspita
Dosen

Dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ)

Rafflesia, Tesso Nilo, dan Dua Wajah Hutan Indonesia di Media Sosial

Kompas.com, 26 November 2025, 09:24 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Relokasi yang dilakukan sekarang terasa pahit karena mereka tidak pernah benar-benar memahami status tempat tinggal mereka.

Ketiga, ketergantungan ekonomi mendorong masyarakat menggarap lahan yang dianggap kosong atau tidak termanfaatkan. Ketika akses terhadap sumber penghidupan terbatas, hutan menjadi jalan pintas bertahan hidup.

Keempat, kurangnya investasi jangka panjang dalam konservasi, mulai dari penelitian, pemantauan, edukasi publik, hingga kemitraan dengan masyarakat adat, membuat banyak persoalan baru terlihat ketika sudah terlambat.

Kita merayakan “penemuan” Rafflesia hasseltii, tetapi sesungguhnya momen itu mengingatkan bahwa banyak keajaiban hutan Indonesia baru tersorot ketika ada kejutan atau tragedi.

Di atas semua itu, perang narasi memperkeruh keadaan. Tanpa ruang dialog yang adil, publik mudah terjebak pada polarisasi seperti melihat gajah sebagai perusak atau masyarakat sebagai perambah; atau memandang warga sebagai pihak yang harus ditertibkan, sementara negara dipersepsikan sebagai aktor represif.

Di tengah kaburnya batas antara kepentingan manusia dan kelestarian alam, kita perlu menilai situasi ini dengan jernih, bukan sekadar mencari siapa yang salah.

Pertama, gajah bukan pengganggu. Konflik manusia–satwa terjadi karena ruang jelajah satwa menyusut oleh ulah manusia.

Gajah tidak memilih meninggalkan hutan; manusialah yang masuk terlalu jauh ke ruang hidup mereka. Dalam kerangka moral, gajah dan satwa liar lainnya adalah korban, bukan pelaku.

Kedua, membingkai masyarakat sebagai perambah yang harus ditertibkan adalah narasi yang mengabaikan ketidakadilan struktural.

Banyak warga terjebak dalam situasi tanpa pilihan akibat pembiaran bertahun-tahun, ketidakjelasan tata batas, dan absennya peran negara.

Baca juga: Menunggu Surat dari Kantor Gubernur Bobby Nasution

Untuk itu, menghukum mereka tanpa memberi solusi adalah tindakan yang salah secara etis. Namun, di sisi lain, tindakan merusak hutan, tetap tidak dapat dibenarkan, terutama jika didorong pemodal besar, dan pihak yang memanfaatkan ketidaktahuan warga.

Ketiga, negara memikul tanggung jawab moral terbesar. Penertiban menandakan kegagalan tata kelola.

Kendati demikian, langkah pemulihan habitat patut diapresiasi selama dijalankan dengan transparansi, keadilan sosial, dan menghormati martabat warga.

Pada akhirnya, krisis hutan Indonesia bukan tentang menentukan satu pihak yang sepenuhnya benar atau salah, melainkan tentang mengakui siapa yang paling rentan dan siapa yang paling berkuasa memperbaikinya.

Satwa bukan pelaku; masyarakat bukan musuh; dan negara memiliki kewajiban moral memperbaiki kesalahan masa lalu.

Di tengah segala perdebatan itu, alam tidak punya suara, tetapi dampaknya bersuara lantang.

Mekarnya Rafflesia hasseltii setelah 13 tahun dicari adalah bisikan lembut tentang keajaiban yang masih bertahan. Ancaman terhadap Tesso Nilo adalah jeritan keras tentang krisis yang tak bisa lagi diabaikan.

Negara harus berpihak pada keberlanjutan hidup karena tanpa hutan yang utuh, keajaiban seperti Rafflesia hasseltii tidak akan lagi mampu mekar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau