Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Hanya EV, Sektor Metalurgi Hijau Bisa Dongkrak Hilirisasi Nikel

Kompas.com, 27 November 2025, 08:37 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Energy Shift Institute (ESI) mengungkapkan bahwa hilirisasi nikel tak hanya mencakup kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) saja, melainkan bisa diperluas ke sektor metalurgi hijau seperti stainless steel.

Dalam laporan ESI berjudul Pendekatan Dua Jalur untuk Industrialisasi Berbasis Mineral di Indonesia, pada skenario produksi EV paling optimis, industri dan baterai akan kesulitan menyerap lebih dari 1 persen dari total produksi nikel Indonesia.

Sebaliknya, aplikasi metalurgi yang mencakup barang konsumsi hingga industri berat termasuk konstruksi dan transportasi dapat menyerap hingga 60 persen dari tambang nikel.

"Ketika kami breakdown melalui analisis kami, nikel itu hanya berperan 2-4 persen dalam komposisi keseluruhan EV," ujar Associate Principal ESI, Ahmad Zuhdi, di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).

Baca juga: Empat Miskonsepsi Besar Soal Nikel dan Kendaraan Listrik di Indonesia

"Saya bisa saja saat ini berdiri di sini dan menyebutkan EV merupakan downstreaming dari industri kulit, karena kita tahu semua mobil EV premium saat ini yang berada di Indonesia, interiornya menggunakan kulit," imbuh dia.

Keunggulan lainnya, 95 persen stainless steel dapat didaur ulang yang meningkatkan kredibilitasnya dalam upaya pelestarian lingkungan. Angka ini jauh dibandingkan tingkat daur ulang baterai nikel lithium-ion yakni hanya 5 persen.

Di sisi lain, Zuhdi menyoroti penggunaan stainless steel untuk produksi nampan Makan Bergizi Gratis. Namun, pemerintah justru mengimpor dari China di tengah bahan baku dalam negeri yang memadai.

“Meski kurang glamor dibandingkan EV dan baterai, manufaktur lokal berskala kecil yang berpusat pada stainless steel memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar karena melayani beragam sektor. Sehingga layak mendapatkan dukungan kebijakan industri,” papar dia.

Zuhdi menilai, kendala struktural juga menjadi tantangan industri EV menyerap nikel di Indonesia. Sebanyak 97 persen mobil dirakit di wilayah tempat mereka dijual. Alhasil, membatasi potensi ekspor EV yang signifikan.

“Terdapat batasan pasar yang berarti kecil kemungkinannya Indonesia dapat mengonversi lebih dari beberapa persen nikelnya menjadi EV atau baterai EV,” jelas Zuhdi.

Baca juga: Kemenaker: 104 Kecelakaan Kerja Terjadi di Smelter Nikel, SOP hingga K3 Masih Diabaikan

Oleh karenanya, ESI mendesak pemerintah menggarap hilirisasi nikel yang mengarah pada sektor metalurgi. Terlebih, Indonesia sudah memiliki keunggulan dan kompetensi yang realistis dalam industri tersebut.

“Indonesia dapat menciptakan peluang keberlanjutan tersendiri dengan mengembangkan merek-merek lokal yang menyasar konsumen, baik domestik maupun global, yang tidak keberatan membayar lebih untuk produk yang diproduksi secara bertanggung jawab," ucap dia.

Kebijakan industri juga seharusnya membantu mengembangkan ekosistem usaha kecil dan menengah lokal yang kompetitif untuk memproduksi barang stainless-steel. Sekaligus menghindari lompatan berlebihan ke produk yang bergantung pada desain dan kebijakan asing.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau