KOMPAS.com-Sebuah studi memberikan wawasan mengenai pemahaman masyarakat tentang dampak lingkungan dari makanan yang mereka makan.
Hasil studi menunjukkan bahwa mereka sering salah memahami dampak tersebut. Temuan ini mendukung perlunya label dampak lingkungan.
Temuan itu didapat setelah para ilmuwan dari School of Psychology University of Nottingham meminta 168 partisipan dari Inggris untuk mengategorikan beragam makanan supermarket sesuai dampak lingkungan.
Hasilnya menunjukkan adanya sejumlah kesalahpahaman seputar dampak lingkungan dari makanan. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di Journal of Cleaner Production.
Melansir Phys, Senin (10/11/2025) sistem pangan merupakan kontributor utama terhadap dampak lingkungan seperti emisi gas rumah kaca dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Baca juga: Pajak Makanan, Solusi Ganda Selamatkan Nyawa Sekaligus Iklim
Untuk mendorong perubahan pola makan di kalangan masyarakat, penting untuk memahami bagaimana masyarakat memandang dampak lingkungan dari produk pangan.
Dalam studi ini, dampak lingkungan dari makanan dihitung melalui penilaian siklus hidup, yang mengevaluasi seluruh proses "dari awal hingga akhir" mulai dari ekstraksi bahan baku hingga pembuangan.
Studi ini pun melibatkan pengumpulan data mulai dari proses input, seperti pupuk, air dan energi lalu proses output seperti emisi dan limbah.
Peneliti kemudian menilai dampaknya di berbagai kategori seperti emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan, dan penggunaan air.
Para partisipan dalam studi ini diperlihatkan perkiraan dampak ilmiah pada tingkat produk dan melaporkan apakah mereka terkejut dengan betapa tinggi atau rendahnya dampak masing-masing produk.
"Kami menyelidiki pemahaman masyarakat mengenai dampak makanan terhadap lingkungan," ungkap Daniel Fletcher, peneliti pascadoktoral dari Fakultas Psikologi yang juga merupakan penulis utama studi ini.
"Kami juga menemukan mereka bersedia mengubah perilaku pembelian setelah tahu dampak makanan terhadap lingkungan. Mereka mau mengurangi maupun meningkatkan konsumsi produk di masa mendatang berdasarkan dampak lingkungan yang diperkirakan secara ilmiah," terangnya lagi.
Baca juga: Inisiatif Food Waste Breakthrough: Target Potong Setengah Sampah Makanan Kota
Lebih lanjut, studi juga menemukan bahwa orang mungkin membandingkan dampak lingkungan dari produk hewani dan makanan olahan tinggi karena mereka menganggap dampaknya terlalu berbeda untuk dibandingkan.
Label dampak lingkungan yang memberikan nilai keseluruhan tunggal pada makanan (seperti A–E) dapat membantu mempermudah perbandingan ini bagi konsumen.
"Penelitian ini adalah yang pertama dari jenisnya dan secara meyakinkan membuktikan luasnya kesalahpahaman publik tentang dampak lingkungan makanan," kata Profesor Alexa Spence, peneliti lain yang terlibat.
"Oleh karena itu label dampak lingkungan adalah solusi yang diperlukan untuk menginformasikan dan mendorong perilaku makan yang lebih berkelanjutan," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya