KOMPAS.com - Studi menunjukkan bahwa teknologi digital seperti realitas yang diperluas (extended reality) membantu mengajarkan anak-anak tentang pentingnya laut dan kehidupan di dalamnya.
Literasi mengenai samudera sangat penting untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab serta tanggap terhadap iklim.
Namun, laut sulit diakses dengan cara yang nyata. Banyak anak tidak pernah mengunjunginya dan mereka yang pernah mengunjungi hanya dapat mengakses permukaan atau garis pantai yang pada gilirannya menghambat literasi samudra.
Teknologi digital dapat menjadi alat berharga dan berguna untuk mengajar, sesederhana menggunakan rekaman dari program dokumenter hingga pengalaman realitas virtual yang imersif.
Baca juga: Ancaman Abadi Sampah Plastik, Bertahan di Permukaan Laut Lebih dari 100 Tahun
Realitas virtual ini menawarkan kedekatan pengalaman yang tidak mungkin dilakukan dengan cara lain.
Guru dapat memainkan peran kunci dalam membantu siswa menggunakan alat-alat tersebut supaya bisa mendukung pembelajaran mereka.
Namun, menggunakannya dengan cara yang baru dan menarik untuk mempromosikan literasi samudra tidak selalu mudah.
Studi tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Education Research, mengatakan ada kebutuhan untuk meyakinkan para guru tentang potensi teknologi digital untuk subjek ini.
Terkadang, alat digital yang digunakan dalam pembelajaran terintegrasi secara mulus dengan pembelajaran.
Hal ini terutama terlihat ketika guru percaya diri dalam penggunaannya, sementara di waktu lain, alat digital seperti terpisah dari pembelajaran yang lebih mungkin terjadi ketika teknologi tersebut relatif baru bagi para guru.
Selain itu, teknologi digital memang meningkatkan kolaborasi siswa, tetapi pada saat yang sama, guru merasa bahwa teknologi tersebut dapat menciptakan jarak, mengurangi kemampuan mereka untuk berinteraksi dan mengawasi siswa secara langsung, yang menimbulkan kekhawatiran.
Baca juga: Laut Kunci Atasi Krisis Pangan Dunia, tapi Indonesia Tak Serius Menjaga
"Kami menemukan beberapa guru memiliki kekhawatiran tentang dampak teknologi digital, khususnya VR, terhadap peran mereka. Mereka mencatat kurangnya interaksi waktu nyata dengan siswa mereka saat menggunakan perangkat digital, dan adanya kesan bahwa setiap siswa belajar secara terpisah," ungkap Lindsay Hetherington dari University of Exeter.
Ada kebutuhan untuk meyakinkan guru tentang potensi perangkat digital ini. Hal ini dapat dicapai dengan mendukung guru untuk berpikir secara berbeda tentang cara mereka menggunakan media sosial saat berinteraksi dengan siswa.
Jika berhasil, cara ini berpotensi mendorong keterlibatan generasi muda dengan isu-isu lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya