Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yana Karyana
Pegawai Negeri Sipil

Yana Karyana merupakan penulis dan pengamat isu pendidikan, dengan fokus pada penguatan sumber daya manusia, kebijakan publik, dan peran guru sebagai fondasi peradaban bangsa. Berdomisili di Tangerang, Banten, ia menulis sebagai bagian dari komitmennya mendorong kehadiran negara yang berpihak pada dunia pendidikan.

Banjir Sumatera dan Amanah Kolektif Menjaga Ruang Hidup

Kompas.com, 30 November 2025, 13:56 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BANJIR besar yang melanda Aceh, Padang, dan Medan pada 21–28 November 2025 bukan sekadar ujian cuaca. Sejak hujan ekstrem mulai turun pada 23 November dan mencapai puncaknya pada 25-27 November, kita kembali menyaksikan pola yang terus berulang: air meluap, rumah hanyut, akses jalan terputus, korban jiwa berjatuhan, dan ribuan keluarga mencari tempat aman.

Namun fakta paling mencolok adalah ini: bencana datang bukan karena langit berubah, melainkan karena bumi kehilangan kemampuannya untuk menerima air. Dalam setiap tragedi banjir, kita kerap menyandarkan penyebab pada cuaca ekstrem, siklon tropis, atau perubahan iklim global. Semua itu relevan. Namun membatasi penyebab pada faktor meteorologis adalah cara termudah untuk mengabaikan kesalahan manusia.

Hutan yang hilang, Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak, drainase alamiah yang dipersempit, dan kawasan resapan yang berubah menjadi kawasan ekonomi menghilangkan kemampuan lingkungan menahan air. Dalam kondisi seperti ini, hujan bukan ancaman. Yang menjadi ancaman adalah hilangnya keseimbangan ekologis.

Tanggap darurat, evakuasi, dan bantuan kemanusiaan selalu menjadi respon cepat dan perlu. Namun bila upaya kita hanya bekerja setelah bencana, bukan sebelum, maka kita sedang mempertahankan pola yang melahirkan tragedi berikutnya. Banjir menjadi siklus, bukan kejadian luar biasa.

Baca juga: Banjir Bandang di Padang Masa Kolonial Belanda

Pada titik ini, gagasan ekoteologi yang beberapa tahun terakhir disuarakan Menteri Agama KH. Nasaruddin Umar menghadirkan perspektif yang layak masuk ruang kebijakan publik. Ia mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam bukan semata teknis, melainkan moral. Bumi bukan fasilitas hidup; bumi adalah amanah. Ketika lingkungan dirusak, yang terganggu bukan hanya ekosistem, tetapi nilai luhur menjaga kehidupan yang diamanatkan kepada manusia.

Menariknya, etika ekologis ini telah lama disampaikan oleh kitab suci berbagai agama, jauh sebelum istilah krisis iklim lahir. Islam mengingatkan melalui QS. Ar-Rum 30:41 bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia; Kristen menugaskan manusia mengusahakan dan memelihara taman ciptaan (Kejadian 2:15); Hindu menyebut alam semesta sebagai keluarga bersama (Atharva Veda 12.1.12 ); Buddha mengajarkan tentang keserakahan menebang hutan dan kebijaksanaan menanam kembali (Dhammapada); dan Konghucu mengingatkan bahwa yang menentang harmoni kosmik akan hancur (Lun Yu / Analects).

Semua pesan itu bertemu pada satu simpul: manusia bukan penguasa bumi, melainkan penjaga keseimbangannya. Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar langkah teknokratik, tetapi bagian dari karakter peradaban.

Baca juga: Banjir Sumatera dan Pentingnya Hak Asasi Manusia

Negara yang membiarkan kerusakan lingkungan pada akhirnya membiarkan bencana merusak warganya. Inilah sebabnya pelestarian lingkungan tidak dapat ditempatkan sebagai pilihan alternatif pembangunan, melainkan fondasi keberlanjutan pembangunan itu sendiri.

Kebijakan pemulihan di Sumatera dan wilayah lain dengan kerawanan ekologis serupa harus dimulai dari keberanian politik untuk: menghentikan alih fungsi lahan yang merusak tata air; menegakkan hukum lingkungan secara konsisten; memulihkan hutan dan DAS dengan pendekatan jangka panjang,; serta menata ruang berdasarkan keselamatan ekologis, bukan kepentingan ekonomi jangka pendek.

Bencana banjir tidak akan berhenti hanya karena kita mengeruk sungai lebih dalam, menambah tanggul lebih tinggi, atau menormalisasi aliran air lebih sering. Ketika akar masalah berada di hulu, keberhasilan mitigasi ditentukan oleh keberanian menyentuh hulu bukan oleh kerja keras di hilir.

Banjir Sumatera memberikan satu pelajaran sederhana namun sangat serius: selama kita belum berdamai dengan alam, kita belum benar-benar aman hidup di dalamnya.

Baca juga: Krisis Ekologi Sumatra: Sebuah Utopia Pembangunan Berkelanjutan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau