Editor
Di beberapa wilayah, perempuan bahkan 40 persen lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki smartphone dibanding laki-laki.
Selain risiko, laporan ini juga menampilkan sejumlah contoh penerapan AI untuk pelayanan publik, seperti platform pengaduan warga Traffy Fondue di Bangkok, layanan administrasi Moments of Life di Singapura, serta teknologi "digital twin" untuk perencanaan kota dan pengendalian banjir di Beijing.
UNDP mencatat bahwa hanya sedikit negara di kawasan yang memiliki regulasi komprehensif terkait AI. Bahkan, pada 2027 diperkirakan lebih dari 40 persen insiden kebocoran data global yang berhubungan dengan AI akan disebabkan penyalahgunaan teknologi generatif, sehingga kebutuhan tata kelola yang kuat menjadi semakin mendesak.
“Garis pemisah utama dalam era AI adalah kemampuan,” ujar Philip Schellekens, Kepala Ekonom UNDP Asia-Pasifik.
“Negara yang berinvestasi pada keterampilan, daya komputasi, dan tata kelola akan diuntungkan yang tertinggal berisiko makin tersisih,” lanjut dia.
UNDP menegaskan bahwa peluang AI tetap besar, tetapi hanya dapat diwujudkan apabila negara-negara mampu memitigasi risiko dan memastikan manfaatnya dirasakan secara merata.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya