KOMPAS.com - Laporan baru yang dirilis oleh KPMG menunjukkan bahwa penerapan model AI manajemen energi yang terencana dapat memangkas konsumsi energi pada bangunan-bangunan komersial, dengan hasil yang jauh lebih baik ketimbang hanya melakukan renovasi dan perbaikan konvensional.
Untuk mencapai pengurangan emisi karbon yang signifikan, setidaknya ada dua pendekatan utama yaitu melakukan transisi ke energi terbarukan dan mengurangi total energi yang digunakan.
Metode yang berfokus pada efisiensi misalnya saja, meningkatkan teknologi dan infrastruktur bangunan cenderung menjadi cara yang lebih cepat dan ekonomis karena mengutamakan menghilangkan pemborosan energi, bukan langsung melakukan perombakan perangkat keras yang memerlukan biaya besar.
Baca juga: AI Kikis Green Jobs Level Mula yang Tadinya Tersedia untuk Manusia
Penelitian dari KPMG kemudian menunjukkan bahwa AI dapat memainkan peran kunci dalam mempercepat pendekatan yang didorong oleh efisiensi tersebut, terutama di dalam sektor properti.
Melansir Sustainability Magazine, Minggu (28/9/2025), laporan ini mengemukakan bahwa proyek-proyek perbaikan konvensional, misalnya mengganti boiler dengan pompa panas atau memperbarui isolasi bangunan, kemungkinan besar tidak memadai untuk mencapai target net-zero dunia pada tahun 2050.
KPMG sebaliknya mengedepankan perlunya Kerangka Manajemen Energi Strategis (SEM) yang penggunaannya didukung penuh oleh sistem AI.
Kerangka kerja ini dapat diintegrasikan dengan jaringan pemanas dan listrik suatu bangunan melalui Internet untuk Segala (IoT) untuk secara otomatis mengelola penggunaan energi.
Perusahaan-perusahaan yang menggunakan sistem manajemen energi berbasis Kecerdasan Buatan pun telah mulai melaporkan pengurangan besar dalam penggunaan energi mereka.
Baca juga: AI, Iklim, dan Geopolitik Jadi Pilar Penentu Masa Depan Ekonomi Indonesia
Donatas Kariauskas, CEO Exergio, perusahaan yang berfokus pada efisiensi energi bangunan komersial membenarkan bahwa hasil studi ini cocok dengan pengalaman yang ditemukan di lapangan.
"AI telah membantu bangunan mengurangi pemborosan energi sebesar 20 persen sampai 30 persen dalam proyek-proyek kami, terlepas dari iklim atau usia properti tersebut," katanya.
"Namun, penghematan tersebut hanya akan bertahan jika ada manajemen energi cerdas di baliknya," papar Donatas.
Pimpinan eksekutif itu menggarisbawahi bahwa kesuksesan penerapan metode ini hanya dapat dicapai melalui kontrol operasional yang terus-menerus, bukan sekadar pemasangan sistem yang dilakukan sekali saja.
Riset ini juga menggarisbawahi betapa pentingnya pengawasan oleh manusia dalam sistem manajemen energi berbasis AI.
"AI yang berfokus pada pengguna yang mempertahankan transparansi dan menumbuhkan kepercayaan pengguna, sementara pada saat yang sama mampu melakukan optimalisasi secara mandiri," tulis laporan ini.
Baca juga: Orang Tua Ingin Atasi Perubahan Iklim, Tapi Sulit Terapkan Gaya Hidup Minim Karbon
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya