Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Global Rendah Emisi, Indonesia Bisa Kalah Saing Jika Tak Segera Pensiunkan PLTU

Kompas.com, 7 Desember 2025, 20:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dunia bergerak menuju ekonomi rendah emisi gas rumah kaca (GRK). Investasi global ke energi terbarukan, jaringan listrik, dan baterai pada 2025 mencapai 2,2 dollar Amerika Serikat, atau dua kali lipat dibandingkan investasi global untuk energi fosil.

Bahkan, mulai bulan Januari 2026, Uni Eropa akan memberlakukan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), yang mewajibkan seluruh industri yang mengekspor barang ke wilayah tersebut untuk melaporkan emisinya.

Baca juga: 

Institute for Essential Services Reform (IESR) memprediksi, kebijakan senada akan semakin banyak diterapkan, karena negara-negara di dunia telah memiliki target pengurangan emisi GRK menuju net zero emission (NZE).

Indonesia harus keluar dari jebakan sistem energi fosil

Ketergantungan pada kegiatan ekonomi berbasis batu bara bisa merugikan

Untuk menanggapinya, Indonesia perlu segera mengurangi ketergantungan pada kegiatan ekonomi berbasis batu bara.

Indonesia harus segera keluar dari jebakan sistem energi fosil yang menurunkan daya saing akibat tingginya jejak emisi GRK pada produk dan jasanya.

Kondisi tersebut juga akan menyulitkan Indonesia dalam memenuhi tuntutan perusahaan-perusahaan multinasional yang saat ini mensyaratkan akses energi terbarukan. Perusahaan-perusahaan multinasional membutuhkan energi terbarukan untuk mengurangi jejak emisi GRK mereka.

Ketergantungan pada energi fosil akan menghambat perusahaan-perusahaan multinasional untuk berinvestasi lebih besar di Indonesia.

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bata bara dalam jaringan PLN dengan kapasitas 85 gigawatt (GW) telah mengakibatkan kenaikan emisi GRK sektor ketenagalistrikan rata-rata delapan persen per tahun.

Baca juga: IESR: RI Belum Siap Transisi Energi karena Lembaga Pembayaran Gelontorkan Dana ke Energi Fosil

PLTU Banten 3 Lontar berkapasitas 4x315 MW Dokumentasi PLN PLTU Banten 3 Lontar berkapasitas 4x315 MW

Selama lima tahun terakhir, emisi GRK dari PLTU dalam jaringan PLN tersebut mencapai 352 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) pada 2024.

Sementara itu, PLTU captive atau yang dioperasikan industri secara mandiri di luar jaringan PLN berkapasitas 31,1 GW menghasilkan 131 juta juta ton CO2e. PLTU captive menyumbang 37 persen dari total emisi sektor ketenagalistrikan di Indonesia.

Percepatan transisi dari energi fosil ke yang terbarukan perlu diiringi dengan pemensiunan dini PLTU batubara.

Menurut Manajer Program Sistem Transformasi Energi IESR, Deon Arinaldo, berbagai kebijakan terkait seperti Perpres 112/2022, perlu diperkuat dengan larangan tegas terhadap pembangunan PLTU baru.

Ia berpendapat, seluruh PLTU harus diwajibkan menurunkan emisi GRK setelah beroperasi selama 10 tahun. Seluruh PLTU juga harus berhenti beroperasi pada 2050.

“Kebijakan ini penting untuk menunjukkan komitmen pemerintah serta memberikan sinyal yang jelas bagi pelaku industri, baik batu bara maupun energi terbarukan, agar mereka dapat menyiapkan strategi transisi. Industri, pekerja, dan pemerintah daerah membutuhkan kepastian untuk mulai menyusun dan menjalankan rencana transisi,” ujar Deon dalam keterangan tertulis, Kamis (4/12/2025).

Baca juga: COP30: 70 Organisasi Dunia Desak Kawasan Bebas Energi Fosil di Hutan Tropis

Butuh waktu untuk transisi dari energi fosil ke terbarukan

Perwakilan dari Indonesia dan Tiongkok melakukan penanaman mangrove di PLTU Jawa 7, Serang, Banten, pada Minggu (18/5/2025) sebagai bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara dan komitmen bersama terhadap pelestarian lingkungan.DOK. PLTU JAWA 7 Perwakilan dari Indonesia dan Tiongkok melakukan penanaman mangrove di PLTU Jawa 7, Serang, Banten, pada Minggu (18/5/2025) sebagai bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara dan komitmen bersama terhadap pelestarian lingkungan.

Berkaca dari pengalaman Inggris, transisi dari energi fosil ke terbarukan membutuhkan perencanaan dini dan waktu untuk melakukan diversifikasi ekonomi selama puluhan tahun.

Oleh sebab itu, Indonesia harus bergerak sekarang agar siap ketika dunia sudah meninggalkan penggunaan batubara.

Sebagai langkah awal transisi energi, PLTU perlu dioperasikan secara fleksibel untuk membuka ruang integrasi pembangkit listrik energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan nasional.

Dalam jangka pendek, Kementerian ESDM perlu menyusun peta jalan fleksibilitas sistem ketenagalistrikan di tingkat nasional maupun per pulau. Menurut Deon, revisi kontrak Purchase Power Agreement (PPA) untuk PLTU yang memungkinkan fleksibilitas operasi harus disertakan dalam peta jalan itu.

Di sisi lain, pengembangan proyek percontohan penyimpanan energi berbasis baterai (BESS) dan pumped hydro (PHES) juga perlu segera dimulai.

Baca juga: Peta Jalan Transisi Energi Dinilai Dukung Pensiun Dini PLTU

Dalam jangka menengah, pemerintah Indonesia perlu meningkatkan kemampuan sistem listrik dalam mengelola variabilitas energi terbarukan. Caranya dengan penerapan program demand response beserta insentif pendukungnya, percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan energi, serta penguatan interkoneksi dan smart grid.

Dalam jangka panjang, pemerintah Indonesia perlu mengembangkan pasar ancillary services, membangun interkoneksi lintas pulau hingga lintas negara, serta evaluasi berkala terhadap roadmap fleksibilitas.

Selain itu, Indonesia juga perlu melakukan beberapa hal dalam penanganan PLTU captive pada sektor industri. Di antaranya, dengan membukakan akses listrik hijau melalui mekanisme Penggunaan Bersama Jaringan Transmisi (PBJT), menghapus biaya yang menghambat pemasangan PLTS dan BESS.

Selanjutnya dengan menyederhanakan perizinan, memberikan insentif, serta menyediakan pembiayaan terjangkau dan penjaminan risiko untuk proyek-proyek energi terbarukan.

Baca juga: Perusahaan Bahan Bakar Fosil Wajib Kembangkan Teknologi Penghilang Karbon

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
LSM/Figur
Singapura Luncurkan Program Karbon Biru, Perkuat Ambisi Jadi Pusat Karbon Asia Tenggara
Singapura Luncurkan Program Karbon Biru, Perkuat Ambisi Jadi Pusat Karbon Asia Tenggara
Pemerintah
Ancaman Plastik untuk Kesehatan Diprediksi Melonjak hingga 2040
Ancaman Plastik untuk Kesehatan Diprediksi Melonjak hingga 2040
LSM/Figur
Percepat Pengakuan Masyarakat Adat, Kalimantan Timur Bentuk Tim Khusus
Percepat Pengakuan Masyarakat Adat, Kalimantan Timur Bentuk Tim Khusus
Pemerintah
Trump Pertanyakan Pemanasan Global di Saat  AS Dilanda Badai Musim Dingin, Para Ilmuwan Beri Penjelasan
Trump Pertanyakan Pemanasan Global di Saat AS Dilanda Badai Musim Dingin, Para Ilmuwan Beri Penjelasan
Pemerintah
Pegunungan Menghangat Lebih Cepat dari Perkiraan, Bisa Picu Bencana
Pegunungan Menghangat Lebih Cepat dari Perkiraan, Bisa Picu Bencana
LSM/Figur
Laut Makin Panas, Paus di Atlantik Utara Terpaksa Ubah Pola Makan
Laut Makin Panas, Paus di Atlantik Utara Terpaksa Ubah Pola Makan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau